“Waktu itu dari Prancis, mereka masuk ke wilayah yang dilarang. Hanya Indonesia yang bisa mengeluarkan mereka. Karena sudah dekat dan seperti saudara (dengan masyarakat Lebanon-red),” jelasnya.
Tugas utama Agus dan rekan-rekannya saat itu lebih kepada patroli serta terapi pasca-perang untuk para warganya. Agus mengaku, ada satu momen yang menjadi pengalaman paling tak terlupakan.
“Di Lebanon, kita membantu panen zaitun dan gandum. Mereka senang sekali, baru pertama kali ada pasukan PBB yang membantu masyarakat panen massal, dan itu baru prajurit Indonesia yang melakukannya,” pungkas Agus.
(pai)
(Rifa Nadia Nurfuadah)