Akibat hal tersebut, keluarga Gage sudah tidak berharap banyak jika pria itu akan bertahan. Namun siapa sangka, ia justru sembuh secaea ajaib dan siap kembali ke rumahnya di New Hampshire. Kecelakaan itu telah menyebabkan Gage mengalami luka parah di wajah, kehilangan satu matanya, tulang tengkorak patah hingga menyebabkan kesehatan mental dan kecerdasan emosionalnya berubah.
Harlow menyusun catatan tentang perubahan mental Gage yang kerap gelisah, bertindak tidak sopan dan melontarkan kata kasar. Ia juga bersikap labil. Gage telah kehilangan kemampuan sosialnya dan membuat perilakunya berubah. Melakukan hal biasa menjadi hal sulit bagi Gage.
Baik teman dan rekan kerjanya mengenal Gage sebagai sosok yang terhormat dan pria baik. Tentu saja perubahan karakter tersebut membuat mereka seolah tidak mengenal Gage lagi. Perusahaan kereta api saat itu menolak untuk mempekerjakannya lagi karena kondisi mentalnya yang berbahaya.
Potret kerusakan tengkorak kepala Gage yang tertembus besi. (Foto: The Vintage News)
Akibatnya, Gage lalu mulai mencari nafkah dengan melakukan pekerjaan kasar mulai dari bekerja di peternakan dan pelatih mengemudi di Chile. Kabarnya, pekerjaan ini memiliki efek menenangkan pada ketidakstabilan mentalnya. Dia mulai bertindak seperti dirinya yang dulu beberapa tahun setelah kecelakaan itu. Gage jauh lebih stabil dan mudah beradaptasi secara sosial.
Bagi para ilmuwan, kasus Gage adalah kasus pertama yang menunjukkan korelasi antara trauma otak dan perubahan kepribadian. Phineas Gage kemudian meninggal pada usia 35 tahun akibat kejang yang disebabkan oleh trauma tersebut. Ia telah dikenal sebagai sosok yang membantu pengembangan ilmu syaraf di bidang kesehatan dan membuka pintu baru untuk dunia medis.
Makam Gage sempat digali pada 1867 dan tengkoraknya serta besi yang melukainya diambil oleh Dokter Harlow guna penelitian lebih lanjut. Kini tengkorak Gage disimpan di Warren Anatomical Museum di Harvard University School of Medicine sebagai "peninggalan neurologi" berharga.
(Rufki Ade Vinanda)