JAKARTA - Jika mendengar nama Si Pitung, pasti terbayang dibenak kita tentang sosok pemuda asal Betawi yang berani dan pandai bela diri, terutama dalam melawan penjajahan. Ya, entah siapa yang memulai, cerita itu terus-menerus diwariskan dan menjadi budaya tutur masyarakat Jakarta.
Bahkan, aksi heroik Si Pitung hingga diangkat menjadi film nasional. Sejak tahun 1970-1989, terilis lima film nasional tentangnya yang diperankan artis legendaris Dicky Zulkarnaen. Ketokohannya begitu dijunjung hingga acap disebut “Robin Hood” Betawi dari Rawa Belong.
Akan tetapi penulis buku Pitung, Iwan Mahmoed Al Fattah, punya pandangan berbeda tentang sosok jawara asal Betawi satu ini. Menurutnya, pitung bukanlah nama orang seperti halnya Si Jampang atau Sabeni, tapi merupakan singkatan dari Pituan Pitulung (baca: Pitung) yang merupakan salah satu organisasi perlawanan rakyat Jakarta yang dibentuk pada tahun 1880 oleh Kyai Haji Naipin atas saran dari Pejuang Jayakarta dan Sesepuh adat pada saat itu.
Kyai Haji Naipin adalah seorang yang alim dan juga dikenal sebagai salah satu ahli silat yang handal di kawasan Tenabang.
Pitung didirikan setelah seluruh anggotanya melewati beberapa tes seperti ujian jurus ilmu silat, ujian ilmu agama yang sudah mereka pelajari, ujian ilmu tarekat serta diakhiri dengan khataman Al Quran yang diikuti oleh 7 santri terbaik Kyai Haji Naipin. Setelah dinyatakan lulus maka ketujuhnya dibaiat untuk selalu setia dalam jihad fisabillah, setia terhadap persahabatan, selalu menolong rakyat dan hormat dan patuh terhadap orangtua, ulama dan sesepuh adat.
Semua anggota Pitung diajarkan ilmu beladiri dan juga ilmu ilmu agama seperti Tafsir, Fiqih, Hadist, Tassawuf, Ilmu Alat dan juga pengetahuan tentang strategi-strategi perlawanan. Mereka juga melek terhadap dunia politik yang berkembang pada masa itu, sehingga karena lengkapnya pengetahuan mereka, penjajah menghabisi gerakan ini sampai ke akar akarnya.