HARI PAHLAWAN: Bukan Nama Orang, Si Pitung adalah Organisasi Perlawanan Rakyat Jakarta

Ahmad Sahroji, Jurnalis
Jum'at 10 November 2017 05:01 WIB
Dicky Zulkarnaen memerankan film Si Pitung pada 1970 (Foto:IST)
Share :

Salah satu dari mereka yaitu Bang Jebul dengan hanya berapa gebrakan jurus babak belur Schout Van Hinne dalam sebuah adu tanding silat di Tangerang. Sehingga dari kejadian inilah Hinne menjadi sangat dendam terhadap semua anggota Pitung karena merasa telah dipermalukan di depan khalayak ramai.

Hinne juga pernah kena batunya saat semua Anggota Pitung menangkapnya di daerah Jelambar. Disini dia dan pasukan marsosenya dihajar habis-habisan. Pasukan Marsosenya yang terkenal sadis lari terbirit-birit ketika berhadapan dengan Pitung. Anggota Pitung kesal karena Hinne ini memfitnah Pitung dan mengancam beberapa orang yang pro terhadap perjuangan Pitung.

Tapi semua anggota Pitung masih memberikan kesempatan dia hidup dengan catatan dia tidak menindas rakyat dan tidak memfitnah Pitung sebagai gerombolan perampok. Seperti pada sebuah perjuangan pasti ada resiko, dua orang anggota Pitung yaitu Jebul dan Saman pada tahun 1896 pernah tertangkap dan dipenjarakan di Glodok. Namun mereka berhasil meloloskan diri bahkan berhasil membunuh beberapa marsose.

Beberapa anggota Pitung juga harus mengalami mati syahid yakni Dji'ih tertembak tahun 1899, jenazahnya masih bisa diselamatkan. Radin Muhammad Ali syahid ditembak tahun 1905 Masehi. Beliau ditembak bertubi tubi oleh para Marsose sampai akhirnya rubuh, namun sampai detik-detik kematiannya dia tidak menyerah dan terus bertakbir. Setelah Syahid jasad Muhammad Ali dimutilasi penjajah kafir melalui para inlander (pribumi) yang menjadi saudaranya sendiri.

Jasad Muhammad Ali yang tidak sempurna kemudian disholatkan oleh para alim ulama di kawasan Slipi dan sekitarnya untuk kemudian dimakamkan di daerah Bandengan. Para ulama dan sesepuh yang berada di daerah Jipang Pulorogo (Slipi, Palmerah, Rawa Belong, Kemandoran dan sekitarnya) sangat berduka dengan kematian salah satu pejuang terbaik mereka.

Pitung adalah fakta sejarah, kisah mereka tercatat dalam kitab Al Fatawi, yang ditulis ulang dari tulisan lama ke dalam bahasa Arab melayu oleh KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i, atas perintah Guru Mansur, Sawah Lio, sekira tahun 1910 di Jakarta.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya