NU dan Pemerintah Sepakat Saling Dukung untuk Rawat Kebhinekaan

, Jurnalis
Sabtu 11 November 2017 17:39 WIB
Foto: Istimewa
Share :

Kiai Said menegaskan, Rasulullah menghargai kebinekaan ketika membentuk Negara Madinah. Dalam negara tersebut, hidup masyarakat yang plural, dengan beragam latar belakang suku dan agama, serta profesi. Karena itulah, negara tersebut dikatakan sebagai negara Madinah dari kata tamaddun, yang berarti berperadaban.

“Asalkan satu cita-cita dan satu garis perjuangan, sesungguhnya mereka adalah satu umat. Jadi Nabi Muhammad modern banget,” katanya di hadapan perwakilan NU se-Wilayah Indonesia Timur.

Negara Madinah itu penduduknya ada yang Muslim dan non-Muslim, Arab dan non-Arab, semua diperlakukan sama. Semua penduduk Madinah telah menandatangani kesepakatan bersama untuk hidup damai. Terdapat tanggung jawab bersama kalau ada serangan dari luar. Mereka yang berkhianat juga harus diusir.

Kiai Said yang tinggal di Arab Saudi selama 13 tahun untuk belajar dari sarjana sampai dengan doktor ini memberikan sejumlah contoh tindakan Rasululah yang berlaku adil pada semua kelompok. Pertama, Suatu ketika ada sahabat yang bertengkar dengan Yahudi, kemudian mereka berkelahi sampai si Yahudi meninggal.

Nabi marah besar dengan mengatakan, Barangsiapa membunuh non-Muslim, berhadapan dengan saya. Dan barang siapa berhadapan dengan saya, tidak akan selamat.

Keadilan juga diperlakukan kepada sesama umat Islam, yaitu ketika ada perempuan yang tertangkap mencuri. Ada usulan agar pencuri tersebut tidak dihukum karena berasal dari keluarga terpandang. Dalam kesempatan tersebut, Rasulullah menyampaikan, seandainya Fatimah, anak satu-satunya, yang mencuri, beliau yang akan menghukumnya sendiri.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya