Potret Perayaan Natal di Bumi Serambi Mekkah

Zuhri Noviandi, Jurnalis
Senin 25 Desember 2017 13:31 WIB
Gereja Hati Kudus di Simpang Lima Banda Aceh (foto: Ampelsa/Antara)
Share :

ACEH - Terletak di ujung Sumatera Indonesia, Provinsi Aceh dikenal sebagai bumi serambi Mekkah. Selain sebagai daerah pertama datangnya Islam di Indonesia, daerah ini juga merupakan pusat perkembangan peradaban Islam di Asia Tenggara dengan penduduk mayoritas Islam, Aceh memiliki keistimewaan dalam hal bidang agama.

Pelaksanaan syariat Islam memperoleh dasar hukum pasca reformasi tahun 1998, tepatnya tahun 2001 melalui UU Nomor 4 tahun 1999 tentang penyelanggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh.

Gereja Katolik Hati Kudus, di kawasan Simpang Lima, Banda Aceh (foto: Zuhri Noviandi/Okezone)

Meski saat ini Aceh telah diberlakukannya Syariat Islam secara kaffah, bukan berarti umat non muslim tidak boleh menetap dan menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing. Hanya saja diminta untuk menghormati pelaksanaan dan penerapan syariat islam yang berlaku.

Berlakunya syariat Islam di Aceh selama ini tidak membawa persamasalahan di tengah masyarakat non muslim. Seperti hal nya pemeluk agama Kristen yang melaksanakan hari perayaan Natal pada 25 Desember 2017. Mereka dipersilahkan untuk melaksanakan ibadahnya sesuai ajaran agama mereka.

Potret Perayaan Natal di Aceh

Hotli Simanjuntak, merupakan seorang warga perantaun asal Sumatera Utara, pemeluk agama Kristen yang telah lama tinggal di kota Banda Aceh. Mengenakan baju kaos dan syal merah di lehernya sambil menenteng kamera, Hotli bersama dengan 2 buah hatinya tampak sedang menyaksikan pameran foto di kawasan Museum Tsunami Aceh. Ia juga tak luput membidik setiap aktifitas warga berada di sana.

Hotli merupakan seorang jurnalis foto untuk European Pressphoto Agency (EPA) merupakan sebuah kantor berita foto Internasional. Bekerja sebagai seorang jurnalis, saban hari Hotli melakukan aktifitas liputan bersama teman-teman seprofesi dengannya yang beragama muslim, bahkan masyarakat umum.

(Baca Juga: Nuansa Jepang Warnai Perayaan Natal di Gereja Katedral Purwokerto)

Hotli sudah tinggal di Aceh sejak masa konflik. Dia pun telah merekam beragama kejadian hingga sosial masyarakat ketika peristiwa itu terjadi. Selama hampir 20 tahun berada di Aceh, Hotli bersama keluarga selalu merayakan perayaan Natal setiap tahunnya di tanah rencong.

Melaksanakan ibadah seseuai agamanya di Gereja yang ada di kota Banda Aceh. Bagi Hotli bersama keluarga merayakan Natal di Aceh lebih aman ketimbang daerah lainnya.

“Aku selalu merayakan Natal di sini. Karena rasanya lebih bermakna doaku lebih dalam,” kata Hotli saat berdiskusi dengan Okezone.

Gereja Katolik Hati Kudus, di kawasan Simpang Lima, Banda Aceh (foto: Zuhri Noviandi/Okezone)

Hotli melihat perayaan Natal di Aceh setiap tahunnya berjalan dengan baik dan aman. Tidak ada tekanan yang dirasakan oleh umat kristiani yang ada di Aceh. Perayaan Natal di Aceh sama seperti daerah lain. Hanya saja bagi Hotli tidak sesemarak dengan daerah lain, umat Kristiani di sini tetap merayakan natal tapi bersifat interen.

“Perayaan Natal di sini cenderung aman artinya mungkin tidak seheboh daerah lain. Kalau di wilayah-wilayah lain sudah ada ornament-ornamen natal seperti di Mall atau tempat lainnya kalau kita disini tidak ada. Justru saya pribadi merayakan natal di tempat seperti ini lebih dalam maknanya,” ungkap Hotli.

Bicara soal kerukunan antar-umat bergama, menurutnya umat Muslim di Aceh tidak terlalu mengurus dan mengganggu aktifitas mereka. Walaupun mereka sebagai minoritas dikelilingi oleh mayoritas muslim, umat kristiani tidak pernah merasakan adanya konflik yang terjadi.

“Dilingkungan gerja banyak rata-rata muslim. namun tidak ada gesekan mereka menerima dengan baik,” kata Hotli.

Perayaan Natal di Aceh Aman dan Damai

Di Banda Aceh kebergaman dapat dirasakan ketika berada di kawasan Peunayong, Kampung Mulia dan Kampung Laksana. Masyrakat yang tinggal di sana ragam agama mulai dari pemeluk Islam, Nasrani, Budha, dan Etis Tinghoa. Bahkan di Kampung Mulia jarak rumah ibadah antar agama saling berdekatan.

Selain Masjid sebagai rumah ibadah warga mayoritas Muslim, juga terdapat tiga gereja yaitu Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB)bersebelahan dengan Gereja Methodis Indonesia (GMI) di jalan Pocut Baren, dan Gereja adat Huria Kristen Batak Prostestan (HKBP).

Pendudukan umat Kristiani di Banda Aceh berjumlah sebanyak 1500, sementara untuk seluruh Aceh berjumlah 48.500 ditambah dengan dua kabupaten Aceh Tenggara dan Singkil. Di dua kabupaten ini pemeluk agama Kristen lebih banyak dari pada Banda Aceh.

Pembimbing Masyarakat Kristen Kanwil Kemenag Aceh, Samarel Telaumbanu menceritakan, keberedaan mereka sebagai kaum minoritas di Aceh berjalan dengan baik dan aman. Umat Kristiani merasakan kenyamanan bahkan tidak ada ketakutan. Mereka saling berintreaksi dengan masyrakat muslim Aceh lainnya.

(Baca Juga: Geliat Kemeriahan Menyambut Natal di Bangka Belitung)

Gereja Katolik Hati Kudus, di kawasan Simpang Lima, Banda Aceh (foto: Zuhri Noviandi/Okezone)

Sejak diberlakukannya penarapan syariat Islam di Aceh, menurut Samarel tidak sisi aturan di dalamnya bersifat menganggu agama lain. Hanya saja saling menghormati aturan yang telah berlaku di Aceh. Bahkan sebagai non muslim pemuka agama Kristen di Aceh juga ikut trlibat saat penyusuan qanun (aturan) di dalam pemerintahan.

Samarel telah berada di Aceh sejak tahun 1998, lika-liku dinamika konflik Aceh hingga bencana alam telah ia rasakan di tanah Sultan Iskandar Muda itu. Samarel mengaku kehidupan di Aceh jauh lebih nyaman ketimbang daerah lainnya.

“Kalau ditanya saya apakah lebih enak hidup di Aceh atau di luar. maka saya akan menyebutkan lebih enak tinggal di sini. Alasannya karena nyaman tidak ada rasa ketakutan,” kata Samarel.

Hubungan tolerasi antar umat beraga yang berlangsung di Banda Aceh, Samarel melihat dari tahun ke tahun berlangsung dengan harmonis tidak saling mengganggu, menyinggung perasaan orang lain dan tetap meyakini sesuai ajaran agama masing-masing.

Untuk perayaan Natal sendiri, sebutnya di Aceh kondusif aman dan nyaman, umat kristiani melakukan aktifitas ibadah dengan baik. Seperti hal masyarakat lainnya di Aceh tidak ada yang menganggu dan merasa tertekan.

“Teman-teman yang mayoritas muslim mereka menerima kami dengan baik. Saya melihat tidak gesekan ditengah masyrakat. Selama perayaan Natal di sini tidak ada masalah. Tidak ada orang yang membenci kita di Aceh. Masyarakatnya menerima kami dengan baik,” ujar Samarel.

Samarel berpesan terpenting sesama umat bergama di Aceh khususnya saling jaga diri dan waspada terhadap pihak yang mencoba merusak situasi. “Kitakan sudah dewasa, terkadang kedamaian ada orang-orang pihak tertentu yang tidak menyenangi ada kerhamonisan. Jadi itu yang perlu kita jadikan musuh besar,” tuturnya.

Umat Islam dan MPU Hormati Perayaan Natal di Aceh

Sementara seorang warga muslim beranama Hasan (40) sedang meneguk secangkir kopi hangat di gelas kaca saat ditemui Okezone. Ia baru saja pulang dari Masjid usai Salat Dzuhur. Peci putih masih melekat di kepalanya. Siang itu ia merasa sedikit kepanasan dan lelah. Hasan merupakan salah seorang pedagang yang tinggal di Kampung Mulia, Banda Aceh.

Siang itu, Hasan menikmati kopi di salah warung berhadapan langsung dengan Gereja Methodis Indonesia (GMI). Warkop ini menjadi tempat ia melepaskan penat saat siang hari. Bahkan berbaur dengan teman-teman lain yang non muslim bericerita tentang seputar perkembangan Aceh dan masala perkerjaan.

“Ya sering kami duduk di sini, mereka itu sudah seperti saudara tidak ada masalah meski berbeda agama. Terpenting tetap saling menghormati saja,” kata Hasan mengawali diskusi bersama Okezone.

Gereja Katolik Hati Kudus, di kawasan Simpang Lima, Banda Aceh (foto: Zuhri Noviandi/Okezone)

Katanya, meski di Aceh lebih kental dengan syariat Islam namun tidak ada masalah soal keberadaan pemeluk agama lain. Hubungan sosial berlangsung dengan baik saling menghargai tanpa menganggu satu sama lain. Bahkan Hasan meminta pada seluruh masyrakat di Banda Aceh khususnya, untuk saling menjaga kemaanan saat pelaksanaan Natal.

“Itu adalah hari ibadah mereka kita tidak boleh ganggu, begitu juga denga kami muslim. Selama ini baik hari raya Idul Fitri maupun acara-acara besar Islam lainnya, non muslim di sini sangat menghormati yang penting tidak ada saling menganggu,” katanya.

(Baca Juga: Perayaan Natal dan Tradisi Pembuatan Miniatur Kandang Tempat Lahir Yesus Sang Juru Selamat)

Hal senada juga turut di sampaikan, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk Faisail Ali. Melihat dari masa ke masa toleransi umat beragama di Aceh khsusnya Banda Aceh secara umum berjalan dengan baik tidak ada masalah antar umar bergama. Muslim mengharagai minoritas begitu juga sebaliknya.

“Yang sudah berjalan selama ini perlu dipertahankan dirawat bersama sehingga tidak ada gesekan dengan aktifitas yang dilakukan membuat kerukunan selama ini dinodai,” ujarnya.

Dalam konteks kemanusiaan hubungan sosial, Islam tidak melarang bahkan mendorong untuk berinteraksi dengan umat bergama lain dalam konteks kemanusiaan. “Itu memang ajaran daripada islam,”tambahnya.

Tgk Faisal mengharapkan, untuk menjaga kerukunan kepada semua masyarakat baik yang mayoritas dan minorotas untuk sama-sama menjaga komitmen kebatinan yang terbangun selama ini. Hindari provokasi atau upaya pihak luar yang ingin memperkeruh suasana.

Yang selamana ini sudah damai dan aman dalam konteks ibadah perlu dijaga. “Saya rasa ini sesuatu yang baik. jangan karena hal-hal yang sepele itu bisa merusak hal yang besar antara kita hubungan umat beragama,” ucapnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya