Hari Natal, Menengok Kemesraan Gereja dan Masjid di Solo

Bramantyo, Jurnalis
Senin 25 Desember 2017 17:10 WIB
GKJ Joyodiningratan dan Masjid Al-Hikmah di Solo (foto: Bramantyo/Okezone)
Share :

SOLO - Berdirinya dua bangunan besar di suatu daerah bukanlah suatu hal aneh. Tapi bagimana bila dua bangunan yang berdiri kokoh itu adalah rumah ibadah berlainan agama?

Ya,di Kota Solo, Jawa Tengah, tepatnya di Jalan Gatot Subroto, Kratonan, Serengan terdapat masjid dan gereja yang berdiri berdampingan. Bahkan selama puluhan tahun, jemaat Gereja Kristen Jawa Joyodiningratan dan Jamaah Masjid Al-Hikmah ini selalu hidup berdampingan.

Selama itu pula, tidak pernah ada gesekan yang disebabkan oleh salah satu umat dari satu pihak mengeluhkan kegiatan umat yang lain. Kerukunan di kedua pemeluk agama yang berbeda ini sangat erat terjalin. Bahkan, di setiap perayaan natal, para Jamaah Al-Hikmah ikut membantu mengamankan jalannya misa natal.

(Baca Juga: Potret Perayaan Natal di Bumi Serambi Mekkah)

Seperti yang diutarakan Andrian Erwan Dwi Hartanto salah seorang jemaat Gereja Kristen Jawa Joyodiningratan. Menurut Andrian, sejak kecil dirinya beribadah di sana tak pernah mendengar ada anggota jemaatnya yang mengeluhkan kegiatan yang diadakan pengurus masjid.

Begitu pula sebaliknya, para pengurus masjid itupun tidak pernah mengeluhkan kegiatan kebaktian yang dilakukan para Jemaat GKJ. Contoh mudah kerukunan di antara dua pemeluk agama berbeda ini terlihat dari untuk saling berbagi lahan parkir saat hari besar keagaam kedunya terjadi.

"Kalau kami lagi ada kebaktian, sementara di Masjid Al-Hikmah tidak kegiatan keagamaan, jemaat kami biasa numpang parkir di halaman masjid. Begitu juga sebaliknya," ujar dia.

Begitu pula saat hari Raya Idul Adha, karena keterbatasan lahan membuat para pengurus Masjid Al-Hikmah kesulitan untuk menaruh hewan kurban. Sehingga pihak pengurus masjid meminta izin pada pihak gereja agar mengizinkan hewan kurban itu ditaruh di halaman gereja.

(Baca Juga: Keluarga Ini Lakukan Budaya Open House Tiap Perayaan Natal)

"Toleransi antar keduannya tak hanya itu. Dulu pernah pas pelaksanaan Salat Idul Adha atau Idul fitri bertepatan dengan hari minggu atau hari kebatian. Tapi karena pelaksanaan salat menutup ruas jalan hingga ke depan gereja, maka pihak gereja memutuskan untuk melaksanakan kebaktian sesudah pelaksanaan salat," terangnya.

Sehingga membuat masing-masing pihak tidak perlu lagi mengajukan izin apa pun saat hendak menggelar kegiatan. "Udah saling ngerti. Lagian kalau di luar kami biasa duduk dan ngobrol-ngobrol bareng, tak ada masalah," ujar dia.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya