SOLO - Berdirinya dua bangunan besar di suatu daerah bukanlah suatu hal aneh. Tapi bagimana bila dua bangunan yang berdiri kokoh itu adalah rumah ibadah berlainan agama?
Ya,di Kota Solo, Jawa Tengah, tepatnya di Jalan Gatot Subroto, Kratonan, Serengan terdapat masjid dan gereja yang berdiri berdampingan. Bahkan selama puluhan tahun, jemaat Gereja Kristen Jawa Joyodiningratan dan Jamaah Masjid Al-Hikmah ini selalu hidup berdampingan.
Selama itu pula, tidak pernah ada gesekan yang disebabkan oleh salah satu umat dari satu pihak mengeluhkan kegiatan umat yang lain. Kerukunan di kedua pemeluk agama yang berbeda ini sangat erat terjalin. Bahkan, di setiap perayaan natal, para Jamaah Al-Hikmah ikut membantu mengamankan jalannya misa natal.
(Baca Juga: Potret Perayaan Natal di Bumi Serambi Mekkah)
Seperti yang diutarakan Andrian Erwan Dwi Hartanto salah seorang jemaat Gereja Kristen Jawa Joyodiningratan. Menurut Andrian, sejak kecil dirinya beribadah di sana tak pernah mendengar ada anggota jemaatnya yang mengeluhkan kegiatan yang diadakan pengurus masjid.
Begitu pula sebaliknya, para pengurus masjid itupun tidak pernah mengeluhkan kegiatan kebaktian yang dilakukan para Jemaat GKJ. Contoh mudah kerukunan di antara dua pemeluk agama berbeda ini terlihat dari untuk saling berbagi lahan parkir saat hari besar keagaam kedunya terjadi.
"Kalau kami lagi ada kebaktian, sementara di Masjid Al-Hikmah tidak kegiatan keagamaan, jemaat kami biasa numpang parkir di halaman masjid. Begitu juga sebaliknya," ujar dia.
Begitu pula saat hari Raya Idul Adha, karena keterbatasan lahan membuat para pengurus Masjid Al-Hikmah kesulitan untuk menaruh hewan kurban. Sehingga pihak pengurus masjid meminta izin pada pihak gereja agar mengizinkan hewan kurban itu ditaruh di halaman gereja.
(Baca Juga: Keluarga Ini Lakukan Budaya Open House Tiap Perayaan Natal)
"Toleransi antar keduannya tak hanya itu. Dulu pernah pas pelaksanaan Salat Idul Adha atau Idul fitri bertepatan dengan hari minggu atau hari kebatian. Tapi karena pelaksanaan salat menutup ruas jalan hingga ke depan gereja, maka pihak gereja memutuskan untuk melaksanakan kebaktian sesudah pelaksanaan salat," terangnya.
Sehingga membuat masing-masing pihak tidak perlu lagi mengajukan izin apa pun saat hendak menggelar kegiatan. "Udah saling ngerti. Lagian kalau di luar kami biasa duduk dan ngobrol-ngobrol bareng, tak ada masalah," ujar dia.
Hal senada disampaikan salah seorang takmir Masjid Al-Hikmah bernama Natsir. Dia mengatakan, kerukunan sudah terjalin sejak kedua tempat ibadah ini berdiri. Perlu diketahui GKJ Joyodiningratan dibangun pada masa kolonial yakni era penjajahan Belanda, yakni pada tahun 1939. Sedangkan Masjid Al-Hikmah dibangun pasca kemerdekaan pada tahun 1947.
"Hubungan baik antar kedua agama ini sebenarnya sudah terlihat saat tanah seluas 1.600 meter persegi dibeli dari Haji Ahmad Zaini untuk didirikan gereja. Meski setuju, namun Haji Ahmad Zaini kala itu meminta pihak yang membeli tanah untuk didirikan gereja tidak membeli seluruhnya. Karena di tanah itu, Haji Ahmad Zaini ingin mendirikan musala," terang Natsir.
Dan untuk Natal 2017, Natsir mengungkapkan, para pengurus masjid Al-Hikmah telah siap membantu mengamankan jalannya perayaan Natal di GKJ bersama aparat kemanan dan ormas keagamaan lainnya seperti dari Banser NU.
Sementara itu keceriaan datangnya Natal juga dirasakan para pemuda Gereja Bethel Injil Semesta (GBIS) di Jalan Arief Rahmad Hakim, Tegalharjo, Jebres, Solo, Jawa Tengah. Terlihat para jemaat di gereja tersebut mulai mempersiapkan diri menyambut perayaan Natal.
(Baca Juga: Uniknya Pohon Natal "Raksasa" dari Kepingan CD di Depok)
Saat Okezone menyambangi gereja itu, dari dalam gereja, terdengar lagu puji-pujian. Tampaknya para pemuda gereja ini tengah berlatih agar tampil prima di malam natal. Para pemuda ini sangat serius sekali berlatih. Meskipun disela latihan, tawa dan canda mewarnai latihan mereka.
Sedangkan di deretan tempat duduk para jemaat, mulai dari lantai dasar hingga lantai tiga di GBIS Kepunton, terlihat beberapa petugas dari GBIS Kepunton tengah mempersiapkan tempat duduk yang dipastikan akan dipenuhi 4000 jemaat gereja GBIS Kepunton. Termasuk mempercantik mimbar serta altar GBIS Kepunton.
Indri salah seorang jemaat GBIS Kepunton mengaku sudah melupakan insiden bom bunuh diri yang terjadi di tahun 2011 lalu. Natal kali ini, Indri optimis akan ada kedamaian saat perayaannya.
"Gereja kita memang pernah di bom bunuh diri. Tapi itukan dulu. Dan bukan berarti setiap Natal kita selalu cemas. Kalaupun ada hal yang terburuk menimpa saat kita beribadah, kita berada dalam gembalannya," jelas Indri.
(Fiddy Anggriawan )