PYONGYANG – Pemerintah Korea Utara (Korut) menyatakan akan tetap mempertahankan kebijakannya dalam pengembangan senjata nuklir pada 2018. Hal itu dilaporkan oleh media pemerintah Korut, KCNA pada Sabtu, 30 Desember.
BACA JUGA: Korut Eksekusi Penanggung Jawab Lokasi Uji Coba Nuklir
“Jangan mengharapkan ada perubahan pada kebijakannya. Entitas Pemerintah Korut sebagai kekuatan tak terkalahkan tidak bisa dilemahkan atau di injak-injak. DPRK sebagai negara dengan senjata nuklir yang bertanggungjawab akan memimpin trend sejarah ke jalan satu-satunya mencapai kemerdekaan dan keadilan, bertahan dari semua ancaman di planet ini,” demikian isi laporan KCNA yang dilansir CNN, Sabtu (30/12/2017). DPRK adalah nama resmi dari Korut.
Laporan yang berjudul "Tidak ada Kekuatan yang Bisa Mengalahkan Kemerdekaan dan Keadilan," itu juga menyertakan lini masa dari keberhasilan program senjata nuklir Korut di 2017. Sebagian besar pencapaian itu berfokus pada konflik antara Pyongyang dengan Amerika Serikat (AS).
“Korut akan terus memperkuat kemampuan untuk melakukan pertahanan diri dan serangan pendahuluan dengan kekuatan nuklir sebagai poros selama AS dan pasukan bawahannya bertahan dalam ancaman nuklir," lanjut laporan tersebut.
Sepanjang 2017, Korut telah melakukan satu kali uji coba nuklir pada September dan serangkaian uji coba rudal balistik. Sanksi dan kecaman yang dijatuhkan dunia internasional dan PBB tampaknya tidak memberi pengaruh pada program nuklir rezim Kim Jong-un tersebut.
BACA JUGA: Dewan Keamanan PBB Berlakukan Sanksi Baru untuk Korea Utara
Setelah uji coba rudal balistik pada 29 November, PBB kembali menjatuhkan sanksi yang lebih keras terhadap Pyongyang yang ditujukan untuk mempersulit Korut untuk mendapatkan dana dan sumber daya untuk membuat senjata nuklirnya. Korut menyebut sanksi itu sebagai sebuah pernyataan perang dan mengancam akan membuat AS dan negara-negara yang mendukung sanksi tersebut “membayar harga yang mahal”.
Berbagai upaya untuk mengajak Korut ke jalur diplomasi dan perundingan terus diupayakan. Rusia bahkan bersedia untuk bertindak sebagai penengah guna mempertemukan AS dan Korut dalam sebuah perundingan atau dialog. Namun, sejauh ini upaya-upaya tersebut belum membuahkan hasil.
(Rahman Asmardika)