Tidak hanya itu, Cornelisz menaruh para perempuan di dalam ‘tenda pemerkosaan’. Ia berencana mengurangi populasi di pulau itu menjadi hanya 45 orang. Cornelisz dan pasukannya membunuh 110 orang, termasuk wanita dan anak-anak.
Sementara itu, para prajurit di West Wallabi berhasil menemukan air dan makanan. Mereka mengirim sinyal asap tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di seberang. Ketika mengetahui insiden sebenarnya, para tentara di West Wallaby menghimpun kekuatan untuk mempertahankan diri dari para pemberontak.
Kapal penyelamat yang dibawa Pelsaert sudah semakin dekat. Kelompok pimpinan Cornelisz dan kelompok pimpinan Wiebbe Hayes saling berebut mencapai Sardem. Hayes mampu mencapai Sardem terlebih dahulu dan menjelaskan semuanya kepada Fransisco Pelsaert.
Pertempuran kecil terjadi antara Hayes-Pelsaert melawan pasukan pimpinan Cornelisz. Pihak Hayes dan Pelsaert keluar sebagai pemenang dan menangkap semua pemberontak. Cornelisz dan pasukannya dijatuhi hukuman pemotongan tangan dan kemudian hukuman mati dengan cara digantung.
Bangkai kapal Batavia akhirnya berhasil ditemukan pada 1963. Ahli-ahli sejarah pun berhasil mengungkap fakta mengenai apa yang sebenarnya terjadi dengan meneliti tiap sudut kapal. Sebuah replika kapal Batavia dibangun di Lelystad, Belanda, dan diserahkan ke Australia pada 1999. Namun, sejak 2001 replika itu ditaruh di Bataviawerf di Lelystad.
(Wikanto Arungbudoyo)