HARI itu, cuaca begitu terik. Matahari tengah memuncak. Seorang pria yang mengenakan baju lengan panjang kombinasi warna putih dan biru sedang menapak menuju ke tengah padang. Keringat bercucuran membasahi seluruh wajah dan bajunya. Sesekali, kilauan terpacar dari wajahnya saat ia menghadap ke arah matahari.
Pria itu bernama Azhar. Umurnya telah menginjak 51 tahun. Bapak dari tiga anak itu berprofesi sebagai petani garam tradisional yang beralamat di Desa Lamujong, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Ia bersama enam rekannya memiliki sembilan bedeng tempat produksi garam tradisional, dengan cara dijemur di bawah terik matahari. Saat cuaca terik, surga bagi mereka petani garam. Tak akan asin garam mereka ketika hujan turun.
Menjadi petani garam telah digeluti Azhar sejak 20 tahun silam. Menghidupi kebutuhan keluarga, Azhar betumpu pada hasil garam yang dirinya produksi. Sebelum kelompoknya mendapatkan bantuan dari sembilan bedeng produksi garam itu dari pemerintah, Azhar telah lebih dulu mememiliki sebuah gubuk yang di dalamnya terdapat wajan terbuat dari besi untuk merebus garam. Hingga kini, gubuk itu masih berdiri kukuh, seumur dengan dirinya terjun menjadi petani garam. Meski demikian, satu, dua, kayu yang menempal di dinding gubuk itu telah melapuk.
"Ini (tempat produksi garam dengan cara direbus) milik saya pribadi. Kalau yang produksi garam dengan cara dijemur itu miliki kelompok, saya ketuanya," kata Azhar saat ditemui Okezone, beberapa waktu lalu.
Kini ada dua cara Azhar memproduksi garam; pertama, dengan merebus, yang merupakan asetnya sendiri; dan kedua, dengan cara menjemur di bawah lengkungan bedeng, berkongsi dengan enam rekan petani garam lainnya.
Bahan baku dari pembuatan garam tersebut merupakan pasir yang telah dijemur di bawah terik matahari. Kemudian, Azhar mengangkut pasir itu dan memasukkan ke wajan besar untuk direbus.
Proses perebusan pun membutuhkan waktu selama tiga hingga empat jam hingga pasir yang bercampur air itu menjadi garam. Lalu, Azhar harus mengontrol api agar tetap membakar wajan tersebut. Setiap hari Azahr dapat memproduksi garam tanpa kecuali.
Sedangkan produksi garam kedua dilakukan dengan cara pasir bercambur air itu dijemur di bawah bedeng yang telah tertutupi kertas plastik bening. Sistem jemur, membutuhkan waktu sekira 15 hari lebih baru dapat memetik hasil panennya.
Dalam sebulan, perkiraan Azhar, mereka bisa panen garam dari sembilan bedeng sebanyak dua kali. Jika hasil satu bedeng hasilnya mencapai 1 ton, maka dua kali panen dalam sebulan mencapai 18 ton garam yang dihasilkan. Namun dengan cara seperti ini, garam bisa diproduksi ketika cuaca terik, jika hujan mereka libur.
"Sehari bisa dua kali masak (garam), hasilnya mencapai 60 kilogram. Kalau yang dijemur itu satu bedeng (hasil produksinya) antara 700 kg hingga 1 ton garam," ungkap Azhar.
Sekarang Azhar menjual garam tradisional hasil produksinya itu dengan harga antara Rp7 ribu hingga Rp8 ribu per kg. Ia berkisah, sejak 20 tahun yang lalu harga garam dapat dibandrol dengan harga hanya Rp3 ribu per kg. Maka itu, menurutnya, mungkin itu salah satu dari sekian banyak penyebab atas banyaknya petani garam yang banting stir dan beralih mencari pekerjaan lain.
"Mungkin mereka yang sudah meninggalkan pekerjaan ini lantaran faktor capek. Apa lagi kalau anak muda, mana mau mereka kerja di bawah terik matahari nanti pasti hitam. Tapi kalau harga rendah mungkin tidak sesuai dengan pekerjaan, tapi kalau harga sekarang hingga Rp8 ribu jadi kita senang," ujarnya.
Menurut Azhar, menjadi petani garam salah satu pekerjaan yang cepat mendapatkan upah. Sehari bisa memasak dua kali garam, dan hasil produksi itu langsung dapati dijual ke pasar-pasar yang ada di wilayahnya, Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar.
Sejak menjadi petani garam dengan cara merebus, Azhar bisa menyekolahkan anak-anaknya dari hasil menjual garam tradisonal. Zulkiram, anak tertua Azhar, telah berhasil menyandang gelar sarjana ilmu komunikasi di Universitas Iskandar Muda Banda Aceh dari hasil garam. Sedangkan anaknya yang lain, Intan dan Nadiatul, tengah menempuh pendidikan di sekolah menengah atas dan taman kanak-kanak.
"Padahal, bekerja menjadi petani garam uangnya lebih cepat. Hari ini kita masak hari ini juga kita punya (hasil, uang) dibandingkan dengan pekerjaan lain. Anak saya yang tua baru selesai kuliah. Saya biaya kuliah mereka dari uang hasil jual garam," ucap Azhar dengan wajah tersenyum di bawah pohon cemara saat kami berbincang.
Kendati demikian, Azhar merasa khawatir dengan kebijakan pemerintah dalam melakukan impor garam industri mencapai 3,7 ton. Tentu kebijakan itu akan mengancam kestabilan ekonomi keluarganya yang bertumpu kepada garam, yang disebabkan produksi dan pemasaran garam tradisional terganggu.
"Kalau pemerintah menambah impor garam, sayang kami petani lokal. Otomatis harga jual garam kami menurun. Dengan masuknya garam luar jelas harga garam lokal menjadi murah, dan petani tidak ada yang mau kerja lagi lantaran hasil yang mereka terima tidak sesuai dengan jerih payahnya," pungkasnya.