Abun juga mengatakan bahwa dirinya baru mengetahui ketiga penari tersebut akan beraksi di acara pesta rakyat tersebut sehari sebelum H, N dan R tampil di Dataran Engku Putri pada Sabtu, 14 April lalu 2018. "Saya tahu dari salah satu PR di sini, katanya mereka akan tampil di acara itu, besoknya. Saya juga tidak tahu kalau mereka akan tampil seperti itu," ujarnya.
Abun menjelaskan, kejadian tarian erotis beberapa waktu lalu tersebut sangat berdampak pada jumlah kedatangan tamu di pubnya. Menurutnya, jumlah tamu menurun usai maraknya pemberitaan yang menyebutkan ketiga penari berasal dari tempatnya. "Pasti berimbaslah. Jumlah tamu sedikit berkurang. Tamu kan datang mau cari aman. Dengan adanya kayak gini, tamu jadi mikir-mikir juga mau ke sini," katanya.
Saat disinggung terkait informasi yang menyebutkan bahwa Morena Pub menyediakan penari striptis atau vulgar, Abun langsung membantah hal tersebut. "Wah, nggak ada itu. Dan memang semua PR di sini hanya freelance. Hanya saja, ada beberapa yang memang tinggal di sini, jadi hari-hari mereka di sini," ujarnya.
Sebelumnya, nama Morena Pub terseret dalam kasus ini setelah salah seorang anggota club motor NVLF (New Vixion Lighning Family) yang juga bagian dari panitia, Rizky membenarkan bahwa ketika penari berasal dari Morena Pub. "Iya, memang dari Morena. Memang yang menyewa mereka, kami (panitia NVLF). Jadi, di acara pesta rakyat ini ada dua kepanitiaan yakni panitia dari NVLF dan PMR (Penjaga Marwah Rudi)," katanya.
Rizky menjelaskan, para penari tersebut disewa dengan bayaran Rp600 ribu untuk show selama satu jam. Namun prakteknya, penari tersebut tidak beraksi selama satu jam melainkan hanya sekitar 20 menit. Ketiga penari tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka bersama dengan penanggungjawab acara dan ketua panitia.
(Khafid Mardiyansyah)