Warto mengaku, untuk biaya pemakaian air, warga dikenakan harga progresif. Ia sendiri dalam sebulan bisa membayar antara Rp300 ribu-Rp400 ribu. Nilai tersebut dirasa cukup besar untuk pemakaian air yang kondisinya bahkan sering mati saat listrik padam.
"Saya sampai heran, pemakaian apa yang besar. Sampai waktu itu saya cek, apa pipa saya yang bocor, tapi tidak. Begitu saya matikan, semua meteran tidak jalan. Tapi setiap bulan seperti itu," ujarnya.
"Untuk cuci dan sebagainya memang pakai air PDAM. Pompa air tanah disini kan memang tidak bagus, dan kita memang tidak memakai air tanah," ujarnya lagi.
Warto bersama warga lainnya berharap, agar pihak PDAM Bhagasasi cabang Rawalumbu dapat segera memperbaiki kualitas air menjadi layak untuk dikonsumsi, sesuai dengan namanya.
Sementara itu, Humas PDAM Tirta Bhagasasi, Ahmad Fauzi menolak sebutan krisis air bersih bagi warga di Perumahan Bumi Bekasi Baru Utara.
"Bahasanya jangan krisis lah. Kalau krisis, dari dulu warga tidak dapat air," katanya melalui pesan singkat kepada Okezone.
(Khafid Mardiyansyah)