BEKASI - Setelah menunggu begitu lama, akhirnya problem warga Perumahan Bumi Bekasi Baru Utara (BBBU), Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat, terkait air keruh dan tidak layak konsumsi yang selama ini dikeluhkan, ditindaklanjuti oleh pihak PDAM Tirta Bhagasasi.
Tindak lanjut tersebut, yakni berupa pertemuan yang dihadiri komunitas RW se-Bumi Bekasi Baru Utara, antara lain RW 08, 09,10 Kelurahan Sepanjang Jaya dan RW 08 Kelurahan Pengasinan, bersama pihak PDAM Tirta Bhagasasi, Rabu (2/4/2018).
Ketua RW 09 Sepanjang Jaya, Heri Priharto menyebut, dari hasil pertemuan telah disepakati bahwa solusi yang diberikan terkait permasalahan air, nantinya akan dibuat progres berdasarkan notulen rapat yang berisi perencanaan antisipasi, antara lain tentang keruhnya air dan limbah.
"Dengan catatan, interaksinya antara konsumen dengan pihak PDAM bekerja sama tentang keluhan. Di sini kita membangun titik komunikasi. Sebagai konsumen, kita berharap respons PDAM itu bukan sekedar wacana, tapi benar-benar menanggapi setiap keluhan," katanya.
Menurutnya, komunikasi antara kedua pihak yang bersinggungan sangatlah penting untuk dibangun. Hal ini untuk mencegah perbedaan persepsi, seperti yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya antara warga dengan pihak PDAM.
"Jadi sama-sama antara kedua pihak. Jadi jangan versi dia (PDAM) airnya baik, versi kita airnya kotor. Kita buktikan dicek bersama-sama, jadi bisa lebih fair. Komitmennya begitu," ujarnya.
Heri menjelaskan, seluruh komitmen yang telah disepakati, ditulis dalam sebuah draf yang nantinya akan dijadikan pegangan warga.
"Kalau pun isinya masih kurang sesuai, saya akan minta dikoreksi. Karena keluhan kita sendiri menyangkut beberapa poin yang harus ada solusinya seperti apa. Jadi permasalahan bisa benar-benar selesai," ungkapnya.
Mengenai penyediaan genset yang juga menjadi keluhan warga, Heri menyebut pihak PDAM tidak menyediakan lantaran mendapat protes dari warga sekitar akibat suara bising yang dihasilkan genset.
Pihak PDAM sendiri mengaku sudah bekerja sama dengan PLN, yang nantinya akan menyediakan resource voltase standby jika sewaktu-waktu terjadi mati lampu di wilayah Rawalumbu.
"Tapi kalau sudah menyangkut Bekasi secara nasional, seperti terjadi tutupnya jalur instalasi vital hingga seluruh Bekasi mati lampu, PDAM susah berbuat," paparnya.
"Jika memang begitu, berarti warga perlu tahu siapa petugasnya di situ. Supaya kalau listrik mati dan PAM juga mati, kita protesnya gampang. Nah, untuk ini PDAM sudah sediakan nama-namanya," ujarnya.
(Baca Juga: Jerit Hati Warga Bekasi Tetap Bayar Rp300-400 Ribu per Bulan untuk Air Tak Layak Konsumsi)
Heri berharap, pihak PDAM Tirta Bhagasasi dapat segera merealisasikan apa yang sudah menjadi kesepakatan bersama warga Perumahan Bumi Bekasi Baru Utara. Karena warga sudah jenuh menghadapi masalah air kotor yang sudah berlangsung bertahun-tahun tersebut.
"Sudah ada beberapa warga yang memutus langganan air PDAM. Mereka berpikir, mengapa harus buang uang untuk air kotor? Ini kan akhirnya yang rugi PDAM sendiri. Harusnya PDAM paham, jika kritikan kita ini untuk memperbaiki kinerja mereka," tandasnya.