Fakta-Fakta Seputar Altantuya Shariibuu dan Pembunuhan yang Hantui Najib Razak

Rahman Asmardika, Jurnalis
Kamis 31 Mei 2018 13:22 WIB
Altantuya Shariibuu.
Share :

NAMA Altantuya Shaariibuu banyak terdengar terutama di Malaysia menyusul kekalahan mantan Perdana Menteri Najib Razak dalam pemilihan umum Malaysia. Model yang tewas dibunuh secara keji pada 2006 itu dianggap sebagai kunci dari sebuah kasus korupsi yang diduga melibatkan Najib.

Pada Oktober 2006 Altantuya diculik, sebelum dibunuh secara sadis dan jasadnya diledakkan di sebuah hutan di Subang, Malaysia. Dua oknum pasukan khusus kepolisian Malaysia, Azilah Hadri dan Sirul Azhar Umar ditetapkan sebagai tersangka dan divonis bersalah atas pembunuhan tersebut.

Keduanya dijatuhi hukuman mati dengan digantung, tetapi banyak yang menduga Najib Razak turut memiliki peran dalam pembunuhan Altantuya.

BACA JUGA: Algojo Malaysia Tawarkan Buka Mulut Soal Pembunuhan yang Hantui Pemerintahan Najib Razak

Selama masa pemerintahannya, posisi Najib hampir tak tersentuh dan tidak dikaitkan dalam kematian Altantuya. Namun, setelah rezimnya berganti, banyak pihak yang menyerukan kasus pembunuhan Altantuya untuk kembali dibuka dan diselidiki sampai tuntas.

Berikut beberapa fakta menarik mengenai Altantuya Sharibuu, hantu yang kembali meresahkan Najib Razak.

Menguasai Setidaknya Lima Bahasa

Selain berprofesi sebagai model, Altantuya juga merupakan seorang penerjemah yang menguasai setidaknya lima bahasa: Mongolia, China, Rusia, Inggris dan sedikit Bahasa Prancis. Pekerjaannya itu membuatnya seringkali bepergian keluar dari Mongolia, termasuk dua kunjungan ke Malaysia pada 1996 dan awal 2006.

Pekerjaan itu juga yang membawanya bertemu dengan Abdul Razak Baginda, analis pertahanan Malaysia. Keduanya menjadi dekat dan dilaporkan menjalin hubungan saat Altantuya menjadi penerjemah bagi Abdul Razak Baginda dalam proyek pembelian kapal selam di Prancis. Proyek itulah yang diduga membuat Altantuya dibunuh.


Pernah Dua Kali Menikah dan Memiliki Anak

Altantuya yang dibesarkan di Rusia pernah dua kali menikah dan memiliki dua orang anak dari pernikahannya tersebut.

Dia pertama kali menikah dengan penyanyi Mongolia Maadai pada 1990-an. Pasangan itu memiliki anak pada 1996 sebelum kemudian bercerai. Altantuya kembali menikah dan memiliki anak pada 2003, tetapi lagi-lagi pernikahannya berakhir dengan perceraian.

Dua anaknya tinggal bersama orangtua Altantuya di Mongolia.

BACA JUGA: Skandal Korupsi Kapal Selam Gemparkan Malaysia

Diduga Merupakan Kunci Skandal Korupsi Kapal Selam Malaysia

Pada 2005 Altantuya menemani Abdul Razak Baginda, seorang analis pertahanan sekaligus orang dekat Najib Razak, ke Prancis sebagai penerjemah untuk melakukan negosiasi pembelian kapal selam kelas Scorpenes untuk Pemerintah Malaysia.

Surat kabar Prancis Liberation melaporkan bahwa selama negosiasi Altantuya mengetahui bahwa perusahaan Prancis, Armaris telah membayar komisi sebesar 114 juta euro (sekira Rp1,8 triliun) untuk memuluskan kesepakatan pembelian kapal selam yang ditujukan kepada salah satu perusahaan milik Abdul Razak.

Sepucuk surat yang ditemukan setelah kematiannya mengisyaratkan bahwa Altantuya meminta uang sebesar USD50.000 sebagai uang tutup mulut mengenai informasi berbahaya itu. Tindakannya itu diduga menjadi penyebab perempuan berusia 29 tahun itu disingkirkan.

Pembunuhannya Terungkap dari Serpihan Tulang Belulang

Altantuya dilaporkan hilang setelah diculik di depan kediaman Abdul Razak Baginda pada 19 Oktober 2006. Kepolisian Malaysia kemudian menemukan serpihan tulang yang kemudian diverifikasi sebagai sisa jasad Altantuya di sebuah hutan di Subang, Shah Alam.

Penyelidikan polisi mengungkap bahwa Altantuya ditembak dua kali dengan shotgun sebelum jasadnya diledakkan dengan bahan peledak militer C-4. Jasad Altantuya hancur berantakan sehingga baru bisa dikonfirmasi identitasnya melalui tes DNA.

Istri perdana menteri saat itu, Najib Razak, Rosmah Mansor diduga berada di lokasi kejadian dan menyaksikan pembunuhan Altantuya , namun tuduhan itu tidak pernah dibuktikan.

Beberapa tokoh kunci seperti Abdul Razak Baginda yang sempat dituduh turut bersekongkol dalam pembunuhan itu dinyatakan tidak bersalah oleh Pengadilan Tinggi pada 2008. Sementara Perdana Menteri Najib Razak mengatakan dirinya tidak pernah bertemu dengan Altantuya.

Pada akhirnya, dua oknum pasukan khusus kepolisian Malaysia Azilah Hadri dan Sirul Azhar Umar divonis bersalah atas pembunuhan tersebut dan dijatuhi hukuman gantung. Sirul melarikan diri ke Australia saat dibebaskan menunggu banding sebelum akhirnya tertangkap.

Sirul berhasil ditangkap dengan surat penangkapan Interpol, tetapi Australia menolak untuk mengembalikannya ke Malaysia karena dia menghadapi ancaman hukuman mati. Dalam wawancara baru-baru ini, dia menyatakan siap mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada pembunuhan Altantuya jika diberikan pengampunan oleh pemerintahan Malaysia yang baru.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya