Pembunuhannya Terungkap dari Serpihan Tulang Belulang
Altantuya dilaporkan hilang setelah diculik di depan kediaman Abdul Razak Baginda pada 19 Oktober 2006. Kepolisian Malaysia kemudian menemukan serpihan tulang yang kemudian diverifikasi sebagai sisa jasad Altantuya di sebuah hutan di Subang, Shah Alam.
Penyelidikan polisi mengungkap bahwa Altantuya ditembak dua kali dengan shotgun sebelum jasadnya diledakkan dengan bahan peledak militer C-4. Jasad Altantuya hancur berantakan sehingga baru bisa dikonfirmasi identitasnya melalui tes DNA.
Istri perdana menteri saat itu, Najib Razak, Rosmah Mansor diduga berada di lokasi kejadian dan menyaksikan pembunuhan Altantuya , namun tuduhan itu tidak pernah dibuktikan.
Beberapa tokoh kunci seperti Abdul Razak Baginda yang sempat dituduh turut bersekongkol dalam pembunuhan itu dinyatakan tidak bersalah oleh Pengadilan Tinggi pada 2008. Sementara Perdana Menteri Najib Razak mengatakan dirinya tidak pernah bertemu dengan Altantuya.
Pada akhirnya, dua oknum pasukan khusus kepolisian Malaysia Azilah Hadri dan Sirul Azhar Umar divonis bersalah atas pembunuhan tersebut dan dijatuhi hukuman gantung. Sirul melarikan diri ke Australia saat dibebaskan menunggu banding sebelum akhirnya tertangkap.
Sirul berhasil ditangkap dengan surat penangkapan Interpol, tetapi Australia menolak untuk mengembalikannya ke Malaysia karena dia menghadapi ancaman hukuman mati. Dalam wawancara baru-baru ini, dia menyatakan siap mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada pembunuhan Altantuya jika diberikan pengampunan oleh pemerintahan Malaysia yang baru.
(Rahman Asmardika)