Mengenal Pakilia, Tata Adat Menyambut Pengantin Baru dari Mentawai

Rus Akbar, Jurnalis
Sabtu 21 Juli 2018 11:06 WIB
Foto: Rus Akbar/Okezone
Share :

MENTAWAI - Rumah suku sagurung di Dusun Nangnang, Desa Muara Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat dipenuhi dengan hiasan khas Mentawai. Ada pucuk pelapah kelapa yang melekat di bawah tenda dan tonggak-tonggak rumah dan tenda. Bertanda ada pesta pernikahan Agustina Sagurung (29) dan Adrianus Nongnong (29).

Kedua belah pihak keluarga memilih mengadakan pernikahan di Sikabaluan di rumah pihak perempuan, sebab kediaman laki-laki di Simatalu, Kecamatan Siberut Barat yang sulit dijangkau, jalur untuk menuju ke tempat tersebut hanya lewat laut, beruntung kalau cuaca bagus tapi kalau badai, maut menjadi taruhannya.

Bunyi gajeumak (gendang khas Mentawai dari kulit ular) menyambut mempelai laki-laki untuk memasuki rumah. Ada dua orang ibu-ibu memakai dandanan khas Mentawai, di tangan kiri baik mempelai laki-laki dan perempuan serta dua orang ibu-ibu yang berjalan paling depan itu memegang satu ekor ayam. Bagian tangan kanan mereka memegang pucuk enau sepanjang satu meter berwarna kuning pucat atau disebut katsaila.

Bagian depan, nomor satu dan dua adalah pendamping yang memakai pakaian adat, yang nomor tiga adalah pengantin perempuan dan yang terakhir adalah pengantin laki-laki. Sebelum memasuki halaman rumah yang sudah dikasih tenda tampak seorang kakek bernama Taleku memegang seekor ayam, paruh ayam itu luka dan berdarah karena disembelih.

Kemudian dengan membaca pernyataan selama dua menit kemudian paru ayam yang berdarah itu ditempelkan ke hidung dua orang ibu-ibu dan kedua mempelai laki-laki dan perempuan. Itulah dinamakan pakilia.

Adapun pernyataan yang diucapkan Taleku sebagai berikut;

Ekeu kina Toiten, sibalu takkakna, slek simaoingo buana, abe kabuntenna, simatoroimianan, elek sigereibagana sigerei bagamai (Tentang sebatang pohon kelapa yang punya tangga dan berbuah lebat dan manis). Artinya dalam kehidupan sehari-hari dalam berumah tangga meniti kehidupan perlahan dan pertahap untuk menciptakan keluarga yang rukun dan sejahtera, bahagia.

Ekeu kina oinan, elek atak tirikna, rapakerek tubum, ubun sikatirikna, elek abe kamongana, elek rokui-rokui, elektak sigerei bagana, sigeri bagamai. (Tentang air sungai yang mengalir dari hulu menuju hilir dan pintu muara sungai). Artinya dalam kehidupan berumah tangga selalu ada awal dan akhir kehidupan yang diwarnai berbagai macam cobaan, namun selalu satu tujuan yaitu kehidupan yang baik.

Ekeu kina repdep, raik-raik gajuna, elek abe kabuntenna, elek simakuiramman, elektak simairam mata, maila matamai, tak sigerei bagana, sigerei bagamai, Luluou…….( sejenis pohon tebu yang tumbuh di tepi sungai. Artinya dalam kehidupan berumah tangga jangan membuat rasa malu karena sikap dan tingkah laku yang tidak baik sehingga membuat keluarga dan saudara menjadi malu. Namun menjadi panutan dan kebanggan keluarga sehingga panutan atau contoh yang diberikan itu menjadi kebanggaan keluarga).

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya