Mengenal Pakilia, Tata Adat Menyambut Pengantin Baru dari Mentawai

Rus Akbar, Jurnalis
Sabtu 21 Juli 2018 11:06 WIB
Foto: Rus Akbar/Okezone
Share :

Setelah mengucapkan sukat tersebut, gajauma berdentang. Pendamping dan pengantin mulai berjalan. Namun cara berjalannya bukan seperti berjalan biasa tapi hanya menginjit-nginjitkan kaki. Pendamping mempelai ini dalam berjalan tidak memakai sandal agar memudahkan mereka menginjitkan kaki diatas papan yang telah disediakan.

Lama berjalan dengan menginjitkan kaki ini bisa mencapai setengah jam atau satu jam. Tergantung jarak antara jembatan dan jenjang rumah. Selama dalam proses berjalan berlangsung pihak keluarga, saudara dan famili membuat yang lucu-lucu agar menimbulkan rasa tawa dan semarak.

Mereka bergoyang dengan mengambil pasangan, atau ada yang bergoyang dengan membawa kuali, sendok gulai atau hal lainnya. Yang jelasnya pada intinya agar meriah karena keluarga baru dalam suku akan bertambah.

Prosesi jalan ini akan berhenti ketika pendamping yang paling depan menginjakkan kakinya dijenjang rumah yang disambut dengan teriakan Luluou….secara serempak. Sikebbukat uma (tokoh adat) dan pihak keluarga laki-laki sudah ada di depan pintu menyambut keluarga baru tersebut.

Sementara katsaila dikumpul dan disematkan diatap rumah hingga membusuk. Semua keluarga yang hadir makan bersama sebagai tanda persatuan dalam keluarga, termasuk keluarga baru.

Tradisi ini sebenarnya mulai tergerus sesuai dengan perkembangan zaman, suku-suku (klan). Memang ada beberapa suku yang ada di Dusun Nang-nang, seperti Sagurung, Sikaraja, Siribere, Sakerebau, Sabebegen, Samanjolang, Salelenggu, Sakela’asak. Yang bisa menjalan karena masih tahu susunan dan pernyataan yang akan dikumandangkan oleh sikebbukat uma hanya tinggal satu suku lagi, yaitu suku Sikaraja.

Ada memang sikebbukat uma (tokoh adat) masing-masing suku, namun karena tidak diwariskan atau tidak dipelajari oleh keturunan suku tersebut sehingga anggota suku yang ada sekarang ini tidak tahu sama sekali.

“Memang kami dulu malas untuk mempelajarinya karena anggapan kami itu urusan sikebbukat (penatua). Setelah tiba sama kami sekarang ini sebagai sikebbukat kami tidak tahu lagi,” kata Tunduken salah (70) seorang sikebbukat uma di suku Samanjolang.

Ditambahkan Tunduken, banyak budaya atau tradisi adat yang sudah mulai hilang karena tidak diwariskan dan tidak dipelajari oleh generasi yang ada. “Biasanya sikebbukat dulu memberikan nasehat atau memberikan ceramah tentang budaya, adat istiadat serta dongeng pada waktu mengolah sagu, atau waktu makan. Tidak ada istilahnya diterangkan baik-baik. Jadi kalau malas pergi mengolah sagu kita tidak tahu,” tambahnya.

Satu-satunya sikebbukat uma di suku Sikaraja yang tahu menjalankan adat yang terancam hilang ini yaitu, Taleku. Teteu Taleku ini juga dikenal dengan panggilan teteu Bigen, karena ia pernah menghitamkan rambutnya yang semuanya hampir memutih. Terlebih di kalangan cucu-cucunya panggilan ini lebih akrab lagi.

Tradisi Pakilia adalah menyambut keluarga baru dalam sebuah keluarga atau suku. Pakilia ini mulai dijalankan sehabis pemberkatan pernikahan di gereja yang biasanya hanya untuk agama Katolik saja. Sepulang dari gereja, pihak sikebbukat uma dan juga sabajak (paman) dan sakamaman (bibi) mulai mempersiapkan segala sesuatunya yang digunakan untuk prosesi Pakilia. Seperti ayam yang masih muda (simanosa) empat ekor, katsaila empat buah, gendang (gajeumak), ayam jantan satu ekor.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya