Ridwan menambahkan bahwa dalam keadaan asupan energi rendah, tubuh akan melambatkan laju metabolisme sampai pada tingkat yang paling rendah sehingga terjadi penghematan energi. Kondisi ini disebut Basal Metabolic Rate (BMR).
"Satu-satunya cara adalah dengan dia pada kondisi rest (istirahat), yang dilakukan adalah dengan tidur. Harus melakukan aktivitas seminim mungkin," ujarnya.
Maka dari itu, menurut Komandan Pasukan Katak Koarmada I TNI-AL Letkol Laut Johan Wahyudi, ada lima hal yang perlu diperhatikan saat berusaha bertahan di tengah laut:
1. Air
Air adalah sumber daya yang paling penting dalam menunjang hidup manusia — lebih penting dari makanan. Sebagai gambaran, manusia bisa bertahan hidup tanpa makanan sampai selama 40 hari. Sedangkan tanpa air, manusia bisa mati dalam 4-6 hari.
Karena air garam tidak bisa memuaskan dahaga, orang yang terjebak di laut biasanya mengandalkan air hujan atau embun.
Kantor berita AFP melaporkan bahwa Aldi dapat bertahan selama 49 hari dengan menyesap air dari bajunya yang dibasahi air laut. Menurut Johan, beberapa orang mungkin bisa bertahan dengan meminum air garam dalam jumlah yang sedikit; seorang ilmuwan Prancis bernama Alain Bombard pernah mencobanya — meski eksperimennya gagal diulangi. Tapi ia memperingatkan bahwa cara itu mungkin tidak berlaku bagi semua orang.
"Mungkin dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu, tapi secara teori kita tidak bisa menggeneralisasi," kata Johan.
Ketika Anda meminum air garam dari laut, Anda memasukkan garam dalam jumlah lebih dari yang dibutuhkan oleh tubuh. Akibatnya, tubuh akan membutuhkan lebih banyak air untuk membuang garam berlebih itu, yang membuat Anda dehidrasi.
2. Naungan
Salah satu hal yang membantu Aldi bertahan hidup ialah rompong yang ditumpanginya dilengkapi atap. Naungan (shelter) sangat penting untuk melindungi tubuh dari teriknya sinar matahari di tengah laut.
"Kenapa harus terlindung dari sinar matahari? Ya minimal (supaya) tidak ada penguapan, tidak ada air yang keluar dari dalam tubuh," kata Johan. Dalam kondisi kekurangan air, kebutuhan untuk menurunkan suhu tubuh dengan mengeluarkan keringat akan menambah stres pada fisiologi kita.
Semakin lama kita bisa menyimpan air di dalam tubuh, maka kemungkinan untuk bertahan hidup pun semakin besar. Tapi bagaimana jika tidak ada naungan?
"Apabila tidak ada shelter atau tempat berlindung, minimal badan harus selalu basah. Itu akan mengurangi penguapan dari tubuh," imbuh Johan.