Mengapa Ketegangan Antara Pemerintah China dan Etnis Uighur Terus Terjadi?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Selasa 25 Desember 2018 04:34 WIB
Etnis Uighur di Xinjiang, China (foto: Reuters)
Share :

Bagaimana kekerasan berkembang?

China telah mengintensifkan kebijakan dan tindakan kerasnya terhadap warga Uighur setelah protes jalanan pada 1990-an dan mengulanginya lagi menjelang Olimpiade Beijing pada 2008.

Tapi kekerasan benar-benar meningkat pada tahun 2009, ditandai kerusuhan etnis skala besar di ibu kota daerah itu, Urumqi. Sekitar 200 orang tewas dalam kerusuhan, sebagian besar dari mereka warga China suku Han, menurut para pejabat.

Keamanan ditingkatkan dan banyak orang Uighur ditahan sebagai tersangka. Namun kekerasan terus bergulir.

Pada Juni 2012, enam orang Uighur dilaporkan mencoba membajak sebuah pesawat dari Hotan ke Urumqi, namun mereka bisa dibekuk oleh sejumlah penumpang dan awak.

Terjadi pertumpahan darah pada April 2013, disusul kekerasan Juni 2013, di distrik Shanshan yang menewaskan 27 orang setelah polisi menembaki sekelompok orang yang menurut media pemerintah adalah gerombolan bersenjatakan pisau yang menyerang bangunan pemerintah setempat.

Ekonomi Xinjiang Berpusat pada Pertanian dan Perdagangan (foto: Reuters/BBC Indonesia)  

Menetapkan fakta tentang insiden ini sulit, karena akses jurnalis asing ke wilayah ini dikontrol ketat. Tetapi dalam beberapa bulan terakhir, tampaknya terjadi pergeseran kekerasan, yang mengarah ke serangan skala besar dengan sasaran warga, terutama di Xinjiang.

Sedikitnya 31 orang tewas dan lebih dari 90 orang menderita luka-luka pada Mei 2014 ketika dua mobil menabrak secara sengaja pasar Urumqi disusul pelemparan bahan peledak ke kerumunan. Cina menyebutnya sebagai "insiden kekerasan teroris ".

Sebelumnya terjadi serangan bom dan pisau di stasiun kereta api selatan Urumqi pada bulan April, yang menewaskan tiga orang dan melukai 79 lainnya.

Pada bulan Juli, pihak berwenang mengatakan sekelompok bersenjatakan pisau menyerang kantor polisi dan kantor pemerintah di Yarkant, menyebabkan 96 orang tewas. Imam masjid terbesar di China, Jume Tahir, ditikam hingga tewas beberapa hari kemudian.

Pada September, sekitar 50 orang tewas dalam ledakan di daerah Luntai di luar kantor polisi, pasar dan toko. Detil dari kedua insiden tersebut tidak jelas dan para pegiat menyangkal beberapa detil laporan tentang insiden itu di media pemerintah.

Beberapa kekerasan juga tumpah meluber dari Xinjiang. Sebuah aksi penikahan di Kunming pada bulan Maret di provinsi Yunnan, menewaskan 29 orang, dan pemerintah menyebut separatis Xinjiang adalah pelakunya, seperti juga kejadian Oktober 2013, ketika sebuah mobil menabrak kerumunan dan terbakar di alun-alun Tiananmen, Beijing.

Aparat kemudian meluncurkan apa yang mereka sebut "kampanye satu tahun melawan terorisme", meningkatkan keamanan di Xinjiang dan meningkatkan latihan militer di wilayah tersebut.

Serangan di Lapangan Tiananmen, Oktober 2013, juga dituduhkan pada separatis Uighur dari Xinjiang (foto: Reuters/BBC Indonesia)  

Ada juga laporan-laporan tentang vonis massal dan penangkapan sejumlah 'kelompok teror'. Media pemerintah China telah melaporkan daftar panjang orang-orang yang dihukum karena aktivitas ekstremis dan dalam beberapa kasus, hukuman mati.

(Baca Juga: Indonesia Bisa Tekan China untuk Selamatkan Muslim Uighur) 

Akademisi Uighur terkenal, Ilham Tohti ditahan dan kemudian didakwa pada September 2014 atas tuduhan separatisme, yang memicu kecaman internasional.

Pada Agustus 2018, sebuah komite PBB mendapat laporan bahwa hingga satu juta warga Uighur dan kelompok Muslim lainnya ditahan di wilayah Xinjiang barat, dan di sana mereka menjalani apa yang disebut program 'reedukasi, atau 'pendidikan ulang'.

Pemerintah China membantah tudingan kelompok-kelompok HAM itu. Pada saat yang sama, ada semakin banyak bukti pengawasan opresif terhadap orang-orang yang tinggal di Xinjiang.

Siapa yang jadi biang keladi?

China sering menunjuk ETIM -East Turkestan Islamic Movement: Gerakan Islam Turkmenistan Timur- atau orang-orang yang terinspirasi oleh ETIM, sebagai pelaku kekerasan baik di Xinjiang maupun di sekitarnya.

ETIM disebutkan ingin membangun sebuah negara Turkmenistan Timur yang berdaulat di China. Menurut Departemen Luar Negeri AS dalam laporan tahun 2006, ETIM adalah 'kelompok separatis etnik Uighur yang paling miltan.'

China Menuding Kaum Separatis Xinjiang sebagai Pelaku Serangan Brutal di Stasiun Kumming pada Maret 2014 (foto: AFP/BBC Indonesia)  

Cakupan kegiatan ETIM masih belum jelas. Banyak juga yang meragukan kemampuan kelompok ini dalam menggalang langkah ekstrekisme yang serius.

ETIM tak pernah mengaku sebagi pihak yang berada di balik serangan-serangan itu. Namun pemerintah Cina mengatakan Partai Islam Turkmenistan - yang disebut sebagai nama lain ETIM - mengedarkan video yang mendukung serangan di Kunming.

(Fiddy Anggriawan )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya