Nurhadi-Aldo: Satir Politik dan Skeptisme yang Memuncak Jelang Pilpres 2019

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Selasa 08 Januari 2019 07:35 WIB
Pasangan capres dan cawapres fiktif Nurhadi-Aldo. (Foto: Facebook Nurhadi Aldo)
Share :

KERIUHAN media sosial terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden fiktif, Nurhadi-Aldo, dianggap sindiran keras untuk para kontestan pemilihan presiden yang tak kunjung menawarkan program substansial bagi pemilih. Sejak tahapan kampanye pilpres dimulai pada September 2018, pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dinilai hanya membicarakan isu identitas hingga adu pencitraan.

Hurriyah, dosen ilmu politik di Universitas Indonesia, menyebut akun media sosial Nurhadi-Aldo menjadi ruang ekspresi kelompok yang apatis dan skeptis terhadap Pilpres 2019. "Fenomena ini adalah respons terhadap jargon dan program yang disampaikan kedua kubu," ujarnya saat dikonfirmasi, Senin 7 Januari 2019.

"Ini menjadi peringatan bahwa publik muak pada konstetasi politik yang semakin tidak sehat. Sudah dekat pemilu, kedua kubu bahkan belum membicarakan program yang akan mereka tawarkan," kata Hurriyah.

Nurhadi-Aldo adalah pasangan capres-cawapres fiktif yang muncul dalam tiga platform media sosial, yaitu Instagram, Twitter, dan Facebook. Penggagasnya adalah delapan pemuda usia dari 17–23 tahun nonpartisan yang tinggal di beberapa kota di Indonesia.

(Baca juga: Nurhadi-Aldo: Dari Tukang Pijat Sampai Jadi Capres-Cawapres Guyonan)

Sejak diluncurkan pada 24 Desember 2018 di Instagram, akun @nurhad_aldo telah memiliki 243 ribu pengikut. Jumlah itu memang jauh dibandingkan pengikut Instagram Jokowi (15,2 juta) dan Prabowo (2,4 juta).

Namun di Instagram, pengikut akun Nurhadi-Aldo lebih besar daripada akun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (94,8 ribu) dan Golkar (9,7 ribu).

Dalam sejumlah unggahannya, penggagas Nurhadi-Aldo menyindir realitas politik, antara lain dengan kutipan, "PKI dan isu kepercayaan radikal merupakan manuver politik kelas penguasa untuk menarik simpati massa."

Ada pula kutipan, "Nasionalisme hanyalah dalih penguasa untuk mengontrol rakyat."

Lihat postingan ini di Instagram

Bapak Aldo berpendapat bahwa "didalam sistem democrazy kita saat ini seluruh rakyat tidak dapat ikut serta ambil bagian dalam urusan pemerintahan hanya segelentir orang yg mempunyai cukup atau modal lebih yg dapat bersuara mewakilkan banyak orang", oleh karena itu Kami hadir untuk menyuarakan suara rakyat dari bawah keatas dan depan belakang. Kami hadir tidak hanya peduli dengan masalah didalam negeri namun kami juga peduli dengan permasalahan batas antar kaki setiap insan dibumi ini. #McQueenYaQueen #salamDildo

Sebuah kiriman dibagikan oleh Nurhadi Aldo (@nurhadi_aldo) pada

Akun Nurhadi-Aldo juga menyindir partai politik tertentu, salah satunya dengan berkata, "Partai sebelah berani menolak poligami, tapi enggak berani membawa isu LGBT."

Salah satu penggagas sekaligus tim sukses pasangan fiktif ini, Edwin, menyebut kelompoknya mendiskusikan secara serius setiap unggahan satir politik. Meski lebih mudah ditangkap sebagai ungkapan jenaka, ungkap dia, kalimat-kalimat tersebut menggambarkan realitas politik Indonesia saat ini.

"Tujuan kami menyadarkan masyarakat bahwa politik itu penting. Ini gerakan pembaruan. Ini bukan sekadar gerakan anak muda, tapi tempat edukasi masyarakat," tuturnya.

Menurut Hurriyah, warganet ramai berbincang di akun Nurhadi-Aldo karena kritik terhadap capres-cawapres kerap perundungan dan bantahan. Mereka yang gandrung terhadap pasangan alternatif fiktif ini, sebut Hurriyah, berpotensi besar tak menggunakan hak pilih atau menjadi golongan putih (golput).

"Mereka yang kecewa dan tidak acuh terhadap politik cukup besar. Tahun 2019 ada kemungkinan jumlahnya meningkat," ujar Hurriyah.

Dalam catatan Komisi Pemilihan Umum (KPU), persentase golput pada Pemilu 2009 dan 2014 berkisar 25–30 persen. Angka golput pada rentetan pilkada selama beberapa tahun terakhir juga serupa.

(Baca juga: Kehadiran Nurhadi-Aldo Mampu Meluweskan Ketegangan Pilpres 2019)

Sementara Maman Imanulhaq, juru bicara TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, tidak khawatir jika para pengikut Nurhadi-Aldo terus-menerus skeptis terhadap pilpres. Menurut dia, jumlah follower pasangan fiktif itu tak sebanding dengan target suara Jokowi-Ma'ruf.

"Dari 182 juta pemilih resmi, sekitar 300 ribu orang itu tidak terlalu signifikan. Yang penting edukasi agar jangan sampai ada yang golput atau apatis," kata Maman.

Sementara Andre Rosiade, juru bicara BPN Prabowo-Sandi, yakin strategi kampanye yang personal dan rinci akan meluluhkan kelompok skeptis. Ia mengatakan, pihaknya terus memperuncing strategi kampanye di media sosial.

"Orang-orang itu butuh kepastian program. Kami akan lakukan pertemuan tatap muka terbuka (town hall meeting) untuk paparkan visi-misi, juga pendekatan rumah ke rumah untuk dekati swing voter ini," ujarnya.

Dua pasangan capres-cawapres itu sendiri masih berkesempatan memaparkan program nyata mereka, karena kampanye pilpres masih akan bergulir hingga 13 April 2019. Debat pertama capres-cawapres akan berlangsung 17 Januari, sedangkan kampanye metode rapat umum dimulai 24 Maret.

Adapun pencoblosan pilpres akan dilakukan 17 April, serentak dengan pemilihan legislatif.

(Hantoro)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya