“Untuk hal-hal terkait seks, kami akan dengar masukan berbagai pihak,” tulis majalah itu.
Sejauh ini, belum ada tanda-tanda edisi tersebut akan dihentikan peredarannya.
Jepang berada di peringkat bawah soal keterwakilan perempuan dalam bisnis dan politik negara-negara G7. Berbagai kampanye, misalnya #MeToo juga terkendala di sini.
Tahun lalu, sebuah universitas kedokteran ternama mengaku menurunkan nilai para pelamar perempuan agar jumlah mahasiswa perempuan tetap dengan proporsi 30%.
Temuan itu membuat fakta lain bermunculan: bahwa diskriminasi serupa terjadi di berbagai sektor.
(Rahman Asmardika)