Para pemantau mengatakan mereka memiliki bukti satu transfer 57.600 barel produk minyak terlarang yang belum pernah terjadi sebelumnya, bernilai lebih dari USD5,7 juta.
Laporan itu disampaikan menjelang pertemuan antara Utusan khusus AS untuk Korea Utara, Stephen Biegun, dengan pejabat Korea Utara di Pyongyang untuk mempersiapkan pertemuan tingkat tinggi kedua antara Kim Jong-un dengan Donald Trump yang diperkirakan berlangsung pada akhir bulan ini.
Pada pertemuan pertama di Singapura pada Juni tahun lalu, kedua pemimpin sepakat untuk melakukan proses menuju denuklirisasi Semenanjung Korea, namun sejauh ini tidak banyak hasil yang telah dicapai.
Korea Utara sebelumnya mengatakan tidak akan secara sepihak menyerahkan senjata nuklirnya kecuali Amerika Serikat terlebih dahulu menghilangkan ancaman terhadapnya. Korea Utara telah lama menuntut pasukan AS ditarik sebagai syarat perdamaian.
(Rahman Asmardika)