3. Alat berat eskavator rusak, sehingga belum bisa mengangkut timbunan sampah di tepian Situ Perigi
"Jadi alat sensornya rusak, lagi diperbaiki. Mudah-mudahan hari Kamis (14/3/2019) sudah bisa diangkut. LH nggak punya alat seperti amfibi di DKI Jakarta, bisa ke tengah-tengah sungai, kaki (alat) nya bisa nancep ke dasar sungai," sambungnya.
4. Pengelolaan Situ Perigi terkendala koordinasi dengan BBWSCC
Selama ini diketahui, jika pengelolaan Situ sepenuhnya berada dalam kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC). Sedangkan pemerintah daerah, hanya membantu teknis pengawasan dan pemeliharaannya saja.
"Bukan kewenangan kita (DLH), walaupun kita tetap bantu tanggulangi sampahnya. Kalau mau dilihat dari aturan, yang angkat sampah dari air itu harusnya PU (Dinas Pekerjaan Umum), setelah sampahnya di daratan baru tanggung jawab kita. Ini kan nggak, yang angkat dari airnya kita, yang angkut di daratannya kita juga. Mungkin PU pun terbentur BBWSCC tadi," ungkap Yudha.
5. Kesadaran masyarakat masih rendah
Minimnya kesadaran menjaga kebersihan lingkungan, menjadi salah satu faktor penyebab masih banyaknya sampah yang menumpuk di aliran kali. Masih banyak didapati, warga yang sengaja membuang sampah ke bantaran kali, hingga pada akhirnya terbawa aliran air dan menumpuk di sekitar Situ Perigi.
"Kesadaran masyarakatnya harus terus disentuh. Kadang ada warga sekitar yang kita tegur karena buang sampah ke kali, tapi malah lebih marahan dia, padahal kita tujuannya baik," ucapnya.
(Fiddy Anggriawan )