Menurut Pebo, bila memainkan tarian Jatilan dengan cara moderen, tidak mungkin para pemain Jatilhan itu akan kerasukan roh halus. Berbeda bila memainkan Jatilan dengan cara tradisional, sudah pasti akan diselingi dengan hal-hal gaib untuk menarik minat masyarakat yang menontonnya.
"Tergantung pengemasan pentasnya. Kalau dilakukan secara moderen saat menarikan Jatilan tidak mungkin akan kerasuban. berbeda bila menarikannya dengan cara tradisional, sudah pasti akan diwarnai dengan hal-hal gaib. Kebanyak di wilayah Solo, Jatilan yang satu paket dengan Reog ini mayoritas dilakukan dengan cara moderen. Jadi jangan harap bisa menemukan pemain yang kerasukan roh,"terangnya.
Diakui oleh Pebo, saat ini kesenian tradisional Jatilan ini semakin menghilang karena tergerus kemajuan teknologi. Bisa dikatakan, kesenian ini seperti terasing di tempat asalnya. Mayoritas kalangan milinial sudah tak mau memainkan tarian tradisional ini. Meskipun ada juga kalangan milenial yang menekuni tarian tradisional ini.
"Kalangan milenial yang konsen di wilayah ini (menari) tentu masih mau menekuni tarian ini. Namun kalangan milenial lainnya, kebanyakan sudah enggan terhadap tarian ini," ucap Pebo.
Namun yang pasti, baik Jatilan maupun Reog ini tercipta karena adannya protes masyarakat kala itu terhadap kaum penjajah. Sehingga, sindiran itu pun disampaikan dalam bentuk tarian.
"Biar tidak kelihatan banget protes terhadap penjajah saat itu, mereka pun menciptakan sebuah tarian. Padahal tarian itu merupakan bentuk sindiran terhadap penjajah. Sekaligus tarian itu dipakai untuk memicu semangat rasa nasionalis para pemuda untuk melawan para penjajah," tutur Pebo.
(Fiddy Anggriawan )