Rizki, salah satu peserta diskusi dari komunitas Turun Tangan Aceh sepakat untuk memperbanyak ruang publik bagi anak muda. “Bukan hanya di Aceh tetapi di seluruh Indonesia,” katanya.
Di akhir diskusi itu, anak muda sepakat merumuskan tiga solusi memerangi hoaks. Pertama, anak muda sebagai individu maupun komunitas terlibat berkolaborasi dengan pemerintah maupun elemen masyarakat untuk mensosialisasikan bahaya hoaks. Mereka juga bisa memberikan pemahaman atau mengkampanyekan literasi digital.
Kedua, memperbanyak ruang-ruang perjumpaan antar komunitas. Kedai kopi bisa dijadikan ruang untuk saling bertemu, bertukar gagasan, dan melakukan cross-check satu sama lain. Melalui ruang perjuampaan ini, anak muda bisa terlibat aktif memfilter informasi yang berkembang di ruang publik.
Ketiga, memenuhi ruang publik, termasuk ruang publik digital dengan karya. Karya yang dihasilkan anak-anak muda akan menjadi narasi positif yang bisa mengalahkan maraknya berita palsu atau hoaks.
(Angkasa Yudhistira)