"Nyorog itu sejak saya kecil juga sudah ada. Jadi, dari dulu itu, ibarat kata udah dari zaman sepuh sudah ada. Kalau saya disuruh bapak saya, nih bawain sonoh ke rumah engkong ini, gitu," kata Masenah (55), warga Betawi asli saat ditemui Okezone di Perkampungan Budaya Betawi, Setu Babakan, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan belum lama ini.
Di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, tradisi nyorog sendiri masih dilakukan oleh orang asli yang lahir di daerah tersebut. Namun, di perkampungan tersebut, nyorog hanya dilakukan oleh beberapa orang saja dan sifatnya personal bukan sebagai suatu perayaan.
Tradisi nyorog sendiri diakuinya sudah mulai jarang dilakukan oleh orang Betawi. Menurut Masenah, tradisi tersebut biasanya lebih banyak dilakukan oleh keluarga yang berkelebihan harta alias tajir.
"Masih ada sampai sekarang kalau di sini, cuma ya itu, nyorog itu sebenarnya sekarang bagi yang mampu saja. Tergantung keuangan. Lah kalau kita enggak mampu, misalnya, saya yang lebih muda enggak mampu, terus yang lebih tuanya malah kaya, kan kebalik," tuturnya.