Tradisi nyorog sejatinya tak hanya melulu dilakukan menjelang Ramadan tiba. Namun, tradisi itu juga biasa dilakukan dalam acara pernikahan adat Betawi. Di mana, pihak keluarga mempelai laki-laki sebelum lamaran sudah mendatangi keluarga mempelai perempuan lebih dulu dengan membawa sorogan atau bahan makanan disertai bingkisan.
Tradisi nyorog belakangan kian langka ditemui. Hanya sebagian orang asli Betawi yang hingga kini melestarikan tradisi tersebut untuk prosesi adat. Masenah kembali menjelaskan bahwa nyorog bisa diartikan juga sebagai pengikat tali silaturahmi ataupun sogokan. Lazimnya, sorogan diberikan dari keluarga laki-laki untuk mengikat sang perempuan yang akan dinikahkan.
Sementara dalam prosesi menjelang Ramadan, nyorog bisa juga disebut sebagai munggahan. Nyorog menjelang bulan puasa di Perkampungan Budaya Betawi, Setu Babakan, dilakukan sepekan sebelum puasa tiba.
"Kalau puasa begini namanya munggahan. Nah, kalau nyorog sebenarnya untuk pernikahan juga, jadi kalau mau nikah itu biasanya yang kita sorog duluan. Tapi itu juga ada yang pakai ada yang enggak," tutur Masenah.