Setelah foto Anda diedit, apakah lebih percaya diri?
Biasa saja bagi saya. Enggak percaya diri (tertawa). Biasa saja. Saya lihat foto saya biasa-biasa saja. Banyak foto saya yang lebih bagus, yang lebih, istilahnya lebih elegan, lebih kelihatan muda. Tapi itu banyak yang protes, "Bun, bunda, kok terlihat dewasa banget?" Karena saya sebelum ke lapangan kadang-kadang simpel.
Apakah Anda menyadari foto hasil editan berpengaruh terhadap perolehan suara?
Kita mencoba menampilkan yang terbaik. Mungkin juga ada pemikiran orang pasti akan memilih kan, DPD selama ini banyak kok yang tidak dikenal. Banyak faktornya, begitu kan. Ada yang pilih, oh ini kayaknya ulama, begitu kan. Banyak. Tidak mungkin semua dikenal oleh masyarakat. Ya, semua punya strategi masing-masing, tapi tidak menyalahi aturan. Sah-sah saja.
Apa yang akan Anda lakukan pertama kali saat ditetapkan sebagai anggota DPD nanti?
Yang saya lakukan pertama kali, tentunya dari sekarang, kalau memang sudah tahu saya gerakan di NTB, sudah ada. Sebelum saya dilantik pun, saya sudah buat gebrakan. Namanya STREAM. STREAM itu Sahabat, Teman, Relawan Evi Apita Maya.
Sekarang tim kita sudah berjalan di bawah untuk membantu masyarakat KLU (Kabupaten Lombok Utara) yang kena gempa, bekerja sama dengan Dukcapil, membuat KIA (Kartu Identitas Anak) dan juga Kartu Kematian. Menjemput bola ke masyarakat yang tidak sempat untuk datang ke Dukcapil, gitu. Itu gebrakan-gebrakan.
STREAM itu wadah yang kita siapkan untuk semua menampung aspirasi. Aspirasi masyarakat di situ ditampung. Di situ bergabung semua elemen. Jadi tidak tergantung sama DPD saja. Nanti dari kita untuk kita, begitu kan. Misalnya masalah kependudukan tadi Dukcapil yang membantu. Misalnya masalah pertanian, nanti kita misalnya di dalam grup ada yang dari pihak pertanian, begitu.
(Hantoro)