Kata dia, ketiganya membeli bahan baku ganja melalui online. "Setelah, bahan baku tembakau tersebut tiba, baru mereka racik sendiri. Bahwa ketiga mahasiswa tersebut sebelum memproduksi, mereka pesan bahan baku melalui online," jelas Dwi.
Para mahasiswa tersebut, lanjut Dwi, memesan bahan baku tembakau sintetis melalui online, kemudian mereka racik sendiri setelah itu dipasarkan secara door to door, tapi tidak jual online.
"Namun, mereka bukan pemakai ganja. Saya tanya sekilas, dia ngak make sebenarnya. Tapi mereka cuma jual saja. Itulah bahayanya narkoba sebenarnya bandar dan pengedar itu banyak yang gak pakai tapi dia merusak orang," tutupnya
(Awaludin)