EL PASO – Jumlah korban tewas insiden penembakan massal di El Paso, Texas, Amerika Serikat (AS) bertambah menjadi 22 orang setelah dua korban lainnya meninggal dunia akibat luka-luka yang mereka alami pada Senin. Presiden AS Donald Trump berencana untuk mengunjungi komunitas tempat penembakan terjadi pada Rabu.
Kematian terakhir menjadikan total 31 korban yang tewas selama akhir pekan dalam penembakan massal yang terjadi di El Paso dan Dayton, Ohio. Kedua insiden itu memicu kehebohan baru terkait kekerasan senjata di Amerika Serikat.
BACA JUGA: Penembakan di Texas, 20 Tewas dan 26 Lainnya Terluka
Patrick Crusius, 21 tahun, telah didakwa dengan satu tuduhan pembunuhan besar-besaran dalam kasus El Paso. Pihak berwenang mengutip manifesto anti-imigran yang di-posting online oleh tersangka pada Sabtu pagi sebelum penembakan sebagai bukti bahwa aksi Crusius adalah kejahatan bermotif rasial.
Menurut pemerintah Meksiko, delapan dari 22 korban yang tewas adalah warga negaranya.
Dalam konferensi pers yang dilansir Reuters, Selasa (6/8/2019), Wali Kota El Paso, Dee Margo mengatakan bahwa Presiden Donald Trump akan mengunjungi kota itu pada Rabu. Margo meminta agar kunjungan di tengah perdebatan kontrol senjata yang memecah belah tidak dipolitisasi.
Menyusul terjadinya penembakan di El Paso, Trump mengatakan bahwa warga AS "harus mengutuk rasisme, kefanatikan dan supremasi kulit putih". Dia juga menyalahkan internet dan video game yang dia anggap mendorong kekerasan.
BACA JUGA: Pelaku Penembakan Massal Texas Terinspirasi Serangan Masjid di Christchurch
Pada Senin, warga di El Paso membawa salib yang mewakili masing-masing korban ke situs peringatan yang berkembang di dekat toko lokasi penembakan.
Di hari yang sama, sebuah acara peringatan untuk mengenang korban tewas termuda dalam insiden itu, Javier Rodriguez, 15 tahun, digelar pada malam hari di sebuah stadion sepak bola sekolah menengah di pinggiran El Paso. Acara itu dihadiri ratusan guru, teman-teman dan kerabat Hernandez.
(Rahman Asmardika)