JAKARTA – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) meminta jurnalis dan media menerapkan prinsip jurnalisme damai dalam pemberitaan peristiwa bernuansa konflik. Contohnya seperti terjadi di Papua yang dinilai buntut dari perlakuan tak etis terhadap mahasiswa Papua di beberapa daerah terutama Jawa Timur.
Prinsip jurnalisme damai dinilai penting diterapkan untuk menurunkan tensi sekaligus mengantisipasi konflik membesar.
“Jurnalisme damai tak berpretensi untuk menghilangkan fakta. Tapi, yang lebih diutamakan adalah memilih atau menonjolkan fakta yang bisa mendorong turunnya tensi konflik dan ditemukannya penyelesaiannya secara segera,” kata Ketua Umum AJI Indonesia, Abdul Manan dalam keterangannya, Selasa (20/8/2019)
Media massa dalam beberapa hari ini memberitakan peristiwa pengepungan organisasi massa, satuan polisi pamong praja Kota Surabaya, polisi dan tentara terhadap asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Nomor 10, Surabaya, Jawa Timur, pada 16 Agustus 2019.
Pemicunya adalah kabar tentang adanya perusakan tiang bendera, informasi yang dibantah mahasiswa Papua. Selama pengepungan itulah terlontar umpatan bernada rasis, menggunakan nama binatang kepada mahasiswa Papua.
Suasana Manokwari saat demo rusuh 19 Agustus 2019 (Istimewa)
Peristiwa itu disusul sejumlah insiden lain di kota Malang dan Semarang. Puncaknya, Senin 19 Agustus 2019, ribuan orang di Papua dan Papua Barat memblokade sejumlah jalan dengan merobohkan pohon. Salah satunya terjadi di Jalan Yos Sudarso, Manokwari, Papua Barat.
Massa juga membakar Gedung DPRD di Kota Manokwari. Protes serupa juga terjadi di Jayapura. Massa turun ke jalan dan memblokir jalan utama menuju Bandara Sentani.
Baca juga: Polri Dalami Video Viral Berisi Ujaran Diduga Rasis dan Penghinaan ke Warga Papua
Dalam memberitakan peristiwa itu, ada media yang menggunakan istilah yang terkesan memberi stigma negatif. Misalnya, menulis judul berita yang antara lain menyebut soal mahasiswa Papua "keras kepala", "melakukan aksi anarkis", "membuat rusuh", dengan tanpa dukungan data dan informasi yang memadai.
Baca juga: Demo di Manokwari Rusuh, Massa Bakar Kantor DPRD Papua Barat
Ada juga yang informasinya tak berimbang, dengan tak meminta pihak yang dituduh berbuat rusuh tersebut menyampaikan versinya.
Saat memberitakan peristiwa di Papua ini, ada media massa yang tak cukup sensitif atas keadaan, yaitu dengan mengangkat dampaknya terhadap etnis tertentu. Secara tak sengaja, pemilihan sudut pandang seperti ini mengabaikan prinsip jurnalisme damai dalam pemberitaan bernuansa konflik karena bisa memicu dampak susulan.