Perdagangan Opium Inggris Memiskinkan Orang India

Rachmat Fahzry, Jurnalis
Sabtu 14 September 2019 08:11 WIB
Pekerja memproduksi opium di Kalkuta, India pada 1900. (Foto/Wikipedia Commons)
Share :

DALAM novel terkenal penulis Amitav Ghosh, “Sea of Poppies”, seorang wanita desa dari daerah penghasil opium di India menceritakannya soal biji opium.

"Dia memandang benih itu seolah-olah dia belum pernah melihat satu pun, dan tiba-tiba dia tahu bahwa tanah airnya yang mengatur hidupnya; melainkan bola sangat kecil ini—yang sekaligus indah dan semuanya—melaha , penyayang dan destruktif, menopang dan dendam."

Pada saat novel ini dibuat, opium dipanen oleh sekitar 1,3 juta rumah tangga petani di India utara. Panen opium adalah lumbung bagi seperempat dan setengah dari petani.

Menjelang akhir abad ke-19, pertanian opium berdampak pada kehidupan 10 juta orang di negara bagian Uttar Pradesh dan Bihar. Beberapa ribu pekerja—di dua pabrik opium yang terletak di sungai Gangga—mengeringkan dan mencampur cairan susu dari biji, membuatnya menjadi kue dan mengemas bola opium di peti kayu.

Perdagangan dijalankan oleh East India Company, perusahaan multinasional yang kuat yang didirikan untuk berdagang dengan membawa nama kerajaan Inggris yang memberinya monopoli bisnis di Asia.

Perdagangan opium yang dikelola pemerintah ini menyebabkan dua perang, salah satunya memaksa China untuk membuka wilayah mereka agar Inggris bisa menjual opium.

Sejarawan William Dalrymple, penulis The Anarchy, sebuah buku baru tentang East India Company, menyitir BBC, mengatakan bahwa mengangkut opium ke China, memerangi perang opium untuk merebut pangkalan lepas pantai di Hong Kong dan menjaga monopoli opium.

Beberapa sejarawan berpendapat bahwa bisnis opium mendorong ekonomi pedesaan India dan membuat petani senang.

Namun bukan itu masalahnya, seperti yang ditemukan oleh penelitian baru oleh Rolf Bauer, seorang profesor sejarah ekonomi dan sosial di Universitas Wina.

Selama bertahun-tahun, Dr. Bauer menjelajahi dokumen kearsipan untuk melihat biaya produksi opium dan membayar uang kepada petani.

Dia juga memeriksa sejarah lengkap perdagangan—Laporan Komisi Kerajaan Opium tahun 1895, yang mencapai tujuh volume dan 2.500 halaman.

Isinya 28.000 pertanyaan dan ratusan laporan saksi tentang penggunaan dan konsumsi opium di India, dan mempelajari bagaimana pemerintah kolonial mengatur produksi dan konsumsinya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya