JAKARTA – Mantan Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengaku terorisme merupakan salah satu ancaman bagi bangsa Indonesia.
“Ancaman nyata itu teroris, bencana alam, pemberontakan, narkoba, masalah intelijen, masalah wabah penyakit. Itu berulang-ulang selama saya empat tahun (menjabat),” ujar Ryamizard dalam dialog kebangsaan bertema “Gelorakan Semangat Bela Begara dalam Menghadapi Ancaman Terorisme dan Liberalisme” di Senayan, Jakarta, Senin (25/11/2019).
Ryamizard berujar, terorisme merupakan masalah yang terus berulang. Karena itu, ia meminta semua pihak terlibat untuk mengantisipasi terorisme.
“Kita lakukan adalah dengan semua ikut berpartisipsi,” ucapnya.
Menurut dia, tipikal teroris dalam melancarkan aksi saat ini berbeda-beda. Seperti bom di Surabaya tahun lalu, seorang ibu nekat membawa anaknya saat menjadi jihadis.
Ryamizard pun heran dengan doktrin bahwa pelaku bom teror pria apabila berhasil menjalankan aksinya bakal mendapatkan 72 bidadari di surga.
“Pertanyaannya sama orang yang nyuruh itu, kalau tahunya saya masuk duluan surga. Ini nyuruh-nyuruh dia enggak mau masuk surga? Ini enggak masuk akal,” tuturnya.
Sementara, Kabag Pemantauan dan Analisa Ro Multimedia Divisi Humas Polri, Kombes Dirmanto mengakui apabila permasalahan terorisme dan radikalisme merupakan musuh bangsa dan bersama.
Jika merujuk pada data yang dimiliki Polri pada 2018, setidaknya 396 orang ditangkap lantaran terlibat dalam kasus terorisme. Dia berharap, pada tahun-tahun mendatang jumlah tersebut semakin berkurang.
“Sementara data petugas Polri yang meninggal ada 31 orang. Mudah-mudahan teror radikal di tahun berikut bisa kita tekan, semua sinergi bersama,” katanya.