Meriam bambu itu lalu dibikin lubang di ujung ruas sebagai sumbu pemantik. Pada ujung ruas dekat lubang akan diisi minyak tanah sebagai pemantik ledakan. Si pemain akan menyulut lubang berisi minyak tersebut dan akan mengeluarkan bunyi. Untuk menghasilkan bunyi yang kuat, maka bambu tersebut harus benar-benar bersih dari asap dengan cara ditiup.
Setiap habis satu ledakan, maka sang pemain wajib meniup meriam itu untuk bersihkan asap dari dalam bambu agar sulutan berikut bisa menghasilkan bunyi yang besar.
Memang semua jenis permainan ini tujuan selain bergembira juga menghasilkan bunyi-bunyian. Tanda bunyi-bunyian itu bisa diartikan sebagai sebuah tanda penyambutan sebuah momentum yaitu Kelahiran Yesus Kristus yang adalah Tuhan itu.
Dalam perjalanannya, permainan meriam bambu di Kota Kupang memudar dan digantikan dengan bunyi-bunyian lain seperti petasan dan sejenis meriam lain yang terbuat dari bekas botol mineral yang digoyang setelah diberikan bahan bakar (spritus).
Jenis meriam ini dinilai lebih praktis karena bisa diboyong ke mana-mana. Namun begitu jenis permainan itupun hanya dimainkan oleh anak-anak saja. Sementara orang tua dan remaja akan bermain petasan.
Kondisi tersebut juga secara perlahan mulai ditinggalkan meskipun di Flores. Perkembangan zaman telah memberikan pilihan bagi masyarakat untuk memilih cara menyambut Kelahiran Yesus (Natal). Kegembiraan akhirnya mulai dilakukan dengan berbagai cara, yaitu bisa dengan petasan dan juga nyanyian-nyanyian dan musik.