Pasca-Banjir, Perumahan Pondok Gede Permai Belum Pulih

Wisnu Yusep, Jurnalis
Sabtu 11 Januari 2020 16:31 WIB
Perumahan Pondok Gede Permai (foto: Okezone.com/Wisnu)
Share :

BEKASI - Lumpur bercampur sampah masih menjadi pemandangan yang tidak sedap di Perumahan Pondok Gede Permai (PGP), Jatirasa-Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (11/1/2020). Pasalnya, di RT07/08, masih terlihat banyaknya lumpur yang sudah mulai menimbulkan bau tak sedap.

Padahal, Pemerintah Kota Bekasi berjanji akan merampungkan pembersihan sampah imbas banjir di Kota Bekasi pekan ini. Namun demikian, wilayah Perum PGP masih saja belum rampung dibersihkan, karena terbatasnya petugas pembersih.

Selain karena medan yang cukup sulit diterjang kendaraan berat, wilayah RT07 juga sangat dekat dengan sungai penghubung Kali Cikeas dan Cilengsi. Belum lagi terbatasnya petugas pembersih di wilayah tersebut.

 

Diketahui, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Bekasi sabanyak 4.190 warga korban banjir di Bekasi telah terjangkit penyakit pasca banjir menerjang Rabu 1 Januari 2020. Kebanyakan warga, terserang pemyakit karena bau tak sedap, juga gatal-gatal.

Bila masalah penanganan banjir berkepanjangan, korban bisa saja bertambah, mengingat Kota Bekasi merupakan wilayah terparah dari banjir yang menerjang Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) pada awal tahun.

Minim Petugas

 

Warga RT07, Endang Zaenal mengatakan, bahwa sudah hampir dua pekan ini, dirinya masih berjibaku dengan pembersihan rumahnya, yang sampai saat ini belum juga rampung.

Selain lumpur melekat di keramik, juga karena minimnya bantuan Pemerintah Kota Bekasi. Petugas, kata dia, hanya berjibaku dengan pengangkatan sampah-sampah yang masih menghiasi Perum PGP.

Dirinya harus rela membersihkan pelataran rumah, tanpa bantuan petugas dari Pemkot Bekasi, yang katanya dikerhakan untuk membantu warga. "Sampai saat ini, apa yang dibantu, karena rumah kita bersihin sendiri, air bersih juga gak ada," kata pria berusia 56 tahun itu kepada Okezone.

Berdasarkan pengamatan Okezone di lapangan, sebagian warga terlihat masih membersihkan peralatan rumah tengga mereka, meski kondisi di wilayah mereka berangsur pulih pasca banjir.

 

Untuk membersihkan rumah, mereka hanya mengandalkan peralatan seadanya, karena bantuan pemerintah belum terasa bagi mereka. Itu terlihat, ketika alat berat pengangkut sampah hanya ada satu.

Fahrur Rozi (37) misalnya, dia hanya membersihkan rumahnya dengan alat seadanya. Padahal, lumpur masih melekat di jejalanan dan rumah mereka.

"Tidak ada, kalau kita lihat itu cuma ada satu alat berat. Padahal lumpur bercampur sampah masih banyak banget disini," kata dia kepada Okezone.

Padahal, kata dia, wilayahnya sangat membutuhkan alat berat yang memadai. Itu bertujuan agar pembersihan lumpur dan pengangkatan sampah bisa segera selesai.

Sejak sepekan ini, Okezone melakukan penyusuran di Perumahan PGP. Warga-warga pun masih terlihat hilir mudik ke Posko Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang bersebelahan dengan pemukiman Perum PGP.

Mereka hilir mudik ke posko untuk beristirahat setelah seharian membersihkan rumahnya. Di malam hari, mereka harus merebahkan badan karena lelahnya perjuangan untuk membersihkan rumah, yang masih tergenang lumpur.

Lumpur-lumpur yang masih mengotori jejajalan itu tampaknya sudah mulai membau. Pasalnya, tak sedikit terdapat sampah-sampah yang bercampur dengan lumpur.

Tak sedikit, perumahan tersebut juga sudah ditinggalkan oleh pemiliknya. Itu dikarenakan mereka menumpang tidur di sanak saudaranya.

Wacana Relokasi

 

 

Perumahan PGP yang terletak di Jatirasa-Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat merupakan wilayah yang paling langganan banjir setiap musim penghujan tiba. Untuk itu, diusulkan agar di relokasi.

Diketahui, Perumahan PGP memiliki tiga RW dengan total 1.364 Kepala Keluarga (KK) atau 5.456 jiwa. Setiap RW 8, 354 KK (1.416 jiwa), RW 9, 410 KK (1.640 jiwa), dan RW 10, 600 KK atau 2.400 jiwa.

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi berharap warga mau untuk direlokasi, karena demi keselamatan bersama. Terlebih, usulan relokasi itu sudah disampaikan ke Presiden Joko Widodo ketika dirinya diundang ke Istana Negara beberapa waktu lalu.

"Ini bukan lagi persoalan respon warga, tetapi ini masalah keselamatan dan kenyamanan. Karena lokasi (Perum PGP) tidak cocok untuk pemukiman, lebih baik dibangun untuk tandon," kata pria yang biasa disapa Pepen ini kepada wartawan, Jumat (10/1/2020).

Masalah relokasi ini, kata dia, juga disampaikan kepada Kementerian terkait, temasuk berdiskusi dengan sejumlah pejabat atas masalah banjir yang menerjang Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi (Jabodetabek) pada Rabu 1 Januari 2020.

"Tadi pagi juga sampaikan, ada pesan dari Bupati Bogor kalau bisa yang Vila Nusa Indah wilayah Bogor yang banjir itu diikutkan menjadi tandon. Jadi PGP dengan separuh Vila Nusa Indah," kata Rahmat.

Dia berharap masyarakat yang tinggal di Perum PGP bersedia dalam membebaskan lahan ini, karen banjir tahunan yang menerjang wilayah Perum PGP ini sudah menyangkut keamanan, sehingga harus direlokasi.

"Di ujung Narogong diantara Cileungsi dan Bukit Hambalang itu ada tandon, tapi dipake juga buat air minum, nah kalo ada tandon lagi nanti bisa menangkap DAS (daerah aliran sungai) yang ada setelah PGP," kata dia.

(Awaludin)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya