Periskop 2020: Gegap Gempita Pesta Demokrasi Serentak di 270 Daerah

Khafid Mardiyansyah, Jurnalis
Senin 13 Januari 2020 15:49 WIB
Ilustrasi
Share :

Potensi Konflik di Pilkada 2020

Polri mengingatkan ancaman konflik sosial jelang pelaksanaan Pilkada Serentak 2020. Perkembangan arus teknologi khususnya di media sosial dinilai mampu menyebabkan konflik horizontal.

Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan Kepolisian Negara Polri (Kabaharkam), Irjen Agus Andrianto, mencatat ada puluhan konflik sosial yang terjadi jelang Pemilu dan Pilkada pada periode 2018 hingga 2019.

Menurut Agus, puluhan konflik sosial tersebut salah satunya lantaran didorong dengan adanya media sosial yang masuk dalam kehidupan masyarakat.

"Tahun 2018 terdapat 29 peristiwa konflik sosial. Sampai Juli 2019 telah terjadi 26 peristiwa konflik sosial yang salah satunya diakibatkan karena pengaruh media sosial," kata Agus beberapa saat yang lalu.

Sementara itu, Pengamat sosial dari Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati membenarkan salah satu potensi adanya gesekan dan konflik sosial yang terjadi di publik dalam perhelatan Pemilu berasal dari media sosial.

Menurut Devie, konflik tersebut terjadi berawal dari diskusi-diskusi yang dilakukan oleh pengguna media sosial yang berhasil disusupi oleh berita dan juga informasi tidak benar atau hoaks.

"Yang membuat masyarakat menjadi terpecah, dan kemudian mendorong adanya konflik di lapangan," ucap Devie kepada Okezone, beberapa waktu lalu.

Devie menjelaskan terdapat beberapa faktor yang membuat masyarakat pada umumnya mudah dengan cepat terbawa arus berita bohong, yakni alasan biologis, sosiologis, dan juga psikologis.

Alasan biologis, menurut Devie, masyarakat memiliki keterbatasan kemampuan untuk mengungkap, dan mengenali secara dalam berita serta informasi yang diterima apakah benar atau tidak.

"Secara sosiologis memang masyarakat umum memiliki rezim kecepatan yang sudah menjadi kehidupan masyarakat modern. Artinya orang ingin berlomba-lomba yang menjadi terdepan, terkini untuk menyampaikan informasi, tanpa peduli apakah itu benar atau tidak," paparnya.

Adapun secara psikologis, masyarakat selalu memiliki keinginan untuk mendapatkan apresiasi. Karena itu, mereka biasanya akan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya agar mendapatkan apresiasi tersebut.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya