Kata Kris, peristiwa itu berlangsung saat pelajaran sistem kelistrikan. Guru dan siswa tengah belajar mengenai pengapian sepeda motor yang berkaitan dengan busi, kumparan (coil), aki, dan lainnya. Ketika itu, para siswa sepakat untuk mencoba setrum dari kabel pengapian sepeda motor secara bergantian.
"Karena permintaan anak-anak sekelas, guru bidang studinya mempertimbangkan hal itu tidak bahaya bagi anak-anak, makanya diizinkan untuk mencobanya dengan catatan akinya dicopot," kata dia.
Dari 40 siswa, 2 orang di antaranya takut mencoba hal itu, dan salah satunya adalah MA, sebagaimana yang ada pada video.
“Intinya tidak ada untuk mem-bully, tapi untuk memotivasi si anak itu agar cepat berganti dengan teman-teman yang lainnya,” tutur Kris.
Kris menegaskan, pihak sekolah akan memberi sanksi bagi siswa yang melakukan tindakan yang dianggap tak pantas seperti itu, contohnya seperti memegang kepala MA.
"Dari pihak sekolah, apapun namanya memberikan motivasi dengan cara mendorong, memegang kepala, saya tidak membenarkan," tegasnya.
Dia memastikan bila ada perlakuan anak didiknya yang "mentoyor" siswa lain, maka akan diberikan sanksi. Saksi tersebut akan diberikan secara mendidik dan tidak memberikan sanksi fisik kepada siswa yang melakukan hal mendorong dan menendang MA.
"Tujuannya agar anak-anak tidak mengulanginya kembali," pungkasnya.
(Awaludin)