Sejarah Situs Matangaji Cirebon dan Nasibnya Kini

Fathnur Rohman, Jurnalis
Selasa 25 Februari 2020 02:00 WIB
Situs Matangaji Cirebon (Foto: Okezone/Fathnur Rohman)
Share :

CIREBON - Situs Matangaji adalah salah satu tempat bersejarah peninggalan Keraton Kasepuhan Cirebon. Situs ini terletak di Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat menjelaskan, situs Matangaji sudah ada sejak 1800 M. Situs tersebut merupakan tempat bersemedi dan tempat persembunyian Sultan Sepuh V Keraton Kasepuhan, yakni Sultan Matangaji.

Menurut Arief, pada zaman dahulu Sultan Matangaji dikenal sebagai 'Sultan Gila'. Julukan tersebut disematkan kepada Sultan Matangaji, karena semasa hidupnya ia sering melakukan perlawanan dan pemberontakan terhadap pasukan Belanda.

Sultan Matangaji sering beraktivitas di luar keraton untuk bergerilya melawan Belanda. Pada masa-masa perjuangannya itu, Sultan Matangaji memiliki beberapa tempat persembunyian yang tersebar di wilayah Cirebon. Salah satunya adalah situs Matangaji.

"Sultan Matangaji adalah Sultan Sepuh V. Kalau dari catatan Belanda itu (Sultan Matangaji) adalah Sultan Gila. Beliau memberontak dan melawan penjajah," kata Arief kepada Okezone, Senin (24/2/2020).

Lebih lanjut, ia menuturkan, situs Matangaji masih terhubung dengan Goa Sunyaragi. Goa Sunyaragi diketahui memiliki beberapa pintu keluar atau pintu goa yang sering dipakai Sultan Matangaji untuk bersembunyi.

Disebutkan Arief, sejak memberontak kepada pasukan Belanda, Sultan Matangaji sama sekali belum pernah dikalahkan dan ditaklukan. Justru, Sultan Matangaji bisa wafat karena ia ditusuk menggunakan pusakanya sendiri, oleh seseorang di Keraton Kasepuhan.

"Kebetulan senjata pusakanya sedang dilepas, lalu beliau ditusuk oleh seseorang. Situs Matangaji masih terhubung dengan Goa Sunyaragi. Situs itu adalah pintu keluarnya. Ada beberapa Goa lainnya yang terhubung," kata Arief.

Di waktu yang berbeda, Budayawan Cirebon, Jajat Sudrajat menggambarkan, bentuk situs Matangaji hampir menyerupai bentuk Goa Argajumut yang berada di Goa Sunyaragi. Namun, yang membedakannya adalah, di situs Matangaji tidak terdapat penutup atau lebih terbuka dari Goa Argajumut.

Jajat menambahkan, situs Matangaji adalah salah satu tempat bersejarah di Kota Cirebon. Pasalnya, situs ini adalah saksi perlawanan Sultan Matangaji kepada Belanda. Situs tersebut sering dipakai Sultan Matangaji untuk bersembunyi.

Jajat mengaku, saat ini situs Matangaji mengalami kerusakan. Diduga kerusakan yang dialami oleh situs Matangaji akibat adanya aktivitas pembangunan perumahan. Hanya puing-puing batu bata yang tersisa dari situs Matangaji. Situs itu kini sudah rata tertimbun oleh tanah.

"Bangunan utamanya kini sudah tertimbun. Situs Matangaji masih memiliki kaitan dengan Goa Sunyaragi. Bentuknya ini mirip dengan Goa Argajumut. Tapi tidak ada penutup atau atapnya. Lebih terbuka atasnya," kata Jajat.

Situs Matangaji Diduga Rusak Akibat Aktivitas Pembangunan Perumahan

Pengurus situs Matangaji bernama Kurdi merasa sangat kecawa lantaran bangunan situs Matangaji kini rata oleh tanah. Ia menuturkan, tempat bersejarah itu rusak diduga akibat adanya aktivitas pembanguan perumahan di dekat situs tersebut.

Kurdi begitu menyesalkan karena ia tidak pernah mengetahui, kalau ada oknum yang melakukan aktivitas pembangunan rumah di sekitar area situs Matangaji.

"Tidak pernah ada pembicaraan izin. Saya tidak mengetahui juga. Semuanya hancur tertimbun tanah," kata Kurdi.

Menurut Kurdi, awalnya oknum yang merusak situs tersebut hanya memotong pepohonan di sekitar bangunan situs Matangaji. Namun, selang beberapa waktu, bangunan situs Matangaji justru ditimbun tanah dan diratakan.

Kurdi menilai, karena situs Matangaji belum terdaftar sebagai Cagar Budaya, maka oknum tak bertanggung jawab itu bisa leluasa merusak dan menimbun bangunan situs Matangaji dengan tanah. Akibat rusaknya situs itu, Kurdi mengaku sempat didatangi sesosok mahluk gaib.

"Situs itu hancur. Saya tidak tahu mereka mau bangun apa. Pas mau ke lokasi, secara tiba-tiba saya mendapat amanat dari Sultan Matangaji," tutur Kurdi. 

Sebelumnya, sempat ada kabar yang menyebutkan, kalau PT Dua Mata Residence sebagai perusahaan pengembang yang melakukan aktivitas pembangunan perumahan di area dekat situs Matangaji. Akan tetapi, Rusdianto selaku Humas Dua Mata Residence membantah kabar tersebut.

Rusdianto memyampaikan, tanah yang berada di area dekat situs Matangaji bukan milik PT Dua Mata. Ia megatakan, tanah tersebut dimiliki oleh seseorang. Orang ini rencananya akan menjual tanahnya kepada PT Dua Mata. Namun, saat ini statusnya masih dalam pembicaraan.

Si pemilik tanah ini tidak pernah melaporkan kepadanya kalau di area itu terdapat sebuah situs. Si pemilik tanah menjelaskan kalau situs itu hanya tempat sesembahan saja. 

"Intinya itu bukan PT Dua Mata. Kami awalnya memang mau membeli tanah itu cuma belum sempat ada persetujuan. Hanya masih dalam pembicaraan saja. Tanah itu masih milik seseorang," ungkap Rusdianto.

Pemkot Cirebon Akan Mengkaji Situs Matangaji 

Pemkot Cirebon melalui DKOKP Kota Cirebon tengah berkonsultasi dengan Balai Arkeologi Bandung. Hal itu dilakukan untuk segera menyelesaikan permasalahan tentang situs Matangaji yang mengalami kerusakan.

Adin selaku Sekretaris DKOKP Kota Cirebon menyampaikan, pihaknya telah membentuk sebuah tim terkait permasalahan ini. Nantinya, tim ini dan Balai Arkeologi Bandung akan mengkaji situs peninggalan Sultan Matangaji itu.

"Kita berkonsultasi dengan Balai Arkeologi. Kita melaporkan. Nanti kalau sudah dikaji, kita minta rekomendasi dari mereka," ujar Adin.

Adin mengaku pihaknya masih mengalami kesulitan dalam mendata dan menginventarisir situs-situs bersejarah di Kota Cirebon. Adin menyebut perlu ada penelitian lebih lanjut serta anggaran khusus yang harus disiapkan.

Sementara itu, pemilik tanah di area situs Matangaji yakni Subekti memastikan dirinya akan bertanggung jawab terkait rusaknya situs Matangaji. Kini, ia tengah menunggu hasil kajian yang hendak dilakukan oleh tim dari DKOKP Kota Cirebon bersama Balai Arkeologi Bandung.

Dirinya berpendapat kalau situs Matangaji bukanlah Cagar Budaya. Bahkan, ia mengatakan terdapat bangunan baru di situs Matangaji. Ia mengaku besok dirinya akan memagari dan membersihkan tanah yang menimbun situs Matangaji.

"Saya tidak tahu. Besok rencananya saya pasang pagar di area itu. Sekaligus akan kerja bakti juga. Membersihkan tanah yang menguruk di tempat yang diduga situs itu," ujarnya.

(Arief Setyadi )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya