Menurutnya, meski erupsi begitu jelas dari arah Selo, dirinya bersama warga lainnya tak memiliki niat untuk segera evakuasi. Setelah itu, mereka pun kembali kerumah dan menjalani rutinitas seperti biasa.
Malah dirinya saat membeli sayuran di pasar Cempogo kaget, melihat banyaknya abu vulkanik di sepanjang jalan.
"Lah kok malah di bawah Selo, abu vulkanik begitu banyak. Jadi baju saya ini kotor, bukan abu vulkanik jatuh di Selo, tapi abu ini menempel di baju saya, karena saya turun ke Cempogo," terangnya.
Ternyata, tak takutnya warga Selo, meskipun erupsi Gunung Merapi terjadi, tak terlepas dari adannya kepercayaan warga Selo sendiri.
Mereka baru akan mengungsi setelah ada kilatan putih yang keluar dari arah Gunung Merapi. Warga Selo mempercayainya bila kilatan putih yang keluar dari Gunung Marapi merupakan isarat yang dikirimkan penunggu Gunung Bibi bila erupsi besar akan terjadi.
Gunung Bibi sendiri diyakini warga sebagai ibu dari Gunung Merapi. Bila kilatan putih sudah terlihat, maka tak lama lagi, erupsi besar Gunung Merapi akan terjadi.
"Istilahnya kalau di manusia itu, ibunya sudah tidak sanggup lagi menenangkan kenakalan sang anak. Jadinya,kilatan putih itu merupakan bentuk teriakan ibunya ke anaknya yang terus membandel," jelasnya.
Meski secara ilmiah apa yang diyakini warga Selo bertolak belakang, namun selama mereka meyakininya, maka warga tidak akan terlalu lama berada di tempat pengungsian.
(Edi Hidayat)