Jenarto juga mengatakan sikap warga di kampungnya tetap berada di tepi jalan selama ancaman erupsi Merapi belum membahayakan. Pasalnya posisi Dukuh Ngemplak berada di daerah paling ujung wilayah Kecamatan Sidorejo.
"Kalau warga kami turun (menyelamatkan diri), otomatis warga kampung di bawah kami ikut-ikutan turun dan panik. Makanya kami sebisa mungkin tetap berada di kampung ketika erupsi itu belum membahayakan agar warga di wilayah bawah kampung kami tidak panik," ungkapnya.
Baca juga: 6 Penerbangan di Bandara Adi Soemarmo Dibatalkan Imbas Erupsi Merapi
Meski warga dipastikan tenang, dia tidak menampik ada sebagian orang yang tetap panik dan berusaha menyelamatkan diri dengan menjauhi kampung. "Tapi mereka tetap bisa ditenangkan warga lainnya," urai dia.
Jenarto mengatakan warga di kampungnya tetap waspada. Hampir setiap malam mereka menggelar ronda malam untuk antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi erupsi Merapi.
Kegiatan itu dilakukan sejak level aktivitas Merapi meningkat dari Normal ke Waspada pada 21 Mei 2018. "Prinsip kami boleh terbiasa, namun tidak boleh terlena," ungkapnya.
Baca juga: Warga Klaten Nonton Bareng ketika Terjadi Erupsi Gunung Merapi
Sementara Sukiman, warga Dukuh Deles, Desa Sidorejo, juga menegaskan warga di lereng Merapi terutama wilayahnya tetap tenang meski erupsi terjadi pada Selasa pagi.
“Warga justru sibuk setelah erupsi reda. Mereka bergegas menutup tandon air karena khawatir airnya kotor terkena hujan abu. Ternyata tidak ada hujan abu di wilayah kami," jelasnya.
(Hantoro)