Setahun Setelah Penembakan Masjid di Christchurch, Kejahatan terhadap Minoritas Masih Menghantui

Medikantyo, Jurnalis
Rabu 11 Maret 2020 19:13 WIB
PM Selandia Baru Jacinda Ardern di tengah komunitas muslim (Foto: Getty Images)
Share :

WELLINGTON - Peringatan setahun serangan bersenjata sejumlah masjid di Christchurch, Selandia Baru masih diwarnai keprihatinan atas kaum minoritas. Kejahatan dengan dasar kebencian terhadap kaum minoritas muslim di negara tersebut masih kerap terjadi, bahkan di lokasi penyerangan 15 Maret tahun lalu.

Teror secara sporadis masih dilakukan simpatisan ekstrimis sayap kanan di sekitar masjid, seperti ditemukan salah satu aktivis Dewan Muslimah Selandia Baru, Anjum Rahman. Melalui sebuah unggahan dalam aplikasi Telegram, terlihat foto seorang pria menggunakan penutup wajah disertai ancaman serta simbol emoji senjata api.

"Serangan bersenjata setahun lalu jelas makin mendorong orang-orang dengan keinginan menyebarkan kebencian semakin berani untuk beraksi," kata Rahman seperti dilansir dari laman Reuters. Rahman mengaku sudah melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian.

Hasilnya penyelidikan polisi mengamankan remaja laki-laki 19 tahun atas sangkaan enggan berkompromi dengan kepolisian saat mencari petunjuk mengenai unggahan tersebut. Sidang perdana dari kasus kejahatan dengan dasar kebencian itu dikabarkan baru digelar pada akhir bulan ini.

Pemerintah Selandia Baru sebenarnya mengambil langkah tegas dengan pimpinan Perdana Menteri (PM) Jacinda Ardern. Penyusunan Undang-undang pembatasan penggunaan senjata api baru serta kampanye melawan kebencian melalui media daring rupanya belum mampu menyurutkan gerakan simpatisan sayap kanan.

"Serangan tahun lalu menjadi dorongan tersendiri kepada sejumlah orang bahkan sampai di tahap sesuatu yang dipandang inspiratif. Pengaruh setelah serangan menambah keinginan simpatisan ekstrimis yang sudah ada sebelumnya untuk menunjukkan sikapnya," ujar Direktur Jenderal Keamanan Intelijen Selandia Baru, Rebecca Kitteridge.

Pelaku penyerangan bersenjata di Christchurch tahun lalu, Brendon Tarrant, diketahui menolak 92 sangkaan terhadap dirinya. Proses peradilan terhadap warga Australia itu akan menjadi sorotan penting terkait tingkat kebencian kaum minoritas Selandia Baru, yang baru dimulai pada Juni 2020.

(Amril Amarullah (Okezone))

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya