Lima Puisi Penyayat Hati dari Sapardi

Khafid Mardiyansyah, Jurnalis
Senin 20 Juli 2020 08:05 WIB
Foto: IG Sapardi Djoko Damono
Share :

JAKARTA - Sapardi Djoko Darmono menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu 19 Juli pada usianya yang menginjak kepala delapan. Namun, puisinya terus dikenang masyarakat.

"Yang fana adalah waktu, kita abadi..." sepenggal sajak Sapardi yang ditulisnya pada 1978 itu kini menjadi kenyataan. Sapardi Djoko Damono telah menjadi "abadi" berkat puisinya yang terus dibacakan umat manusia.

Setidaknya, ada lima puisi penyayat hati yang terus digaungkan khalayak hingga kini. Bagi Sapardi, yang fana memanglah waktu, ia yang kini menjadi "abadi".

Yang Fana Adalah Waktu (1978)

Yang Fana adalah waktu.

 

Kita abadi, memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa.

 

Tapi yang fana adalah waktu, bukan? tanyamu. Kita abadi.

Aku Ingin (1989)

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

 

dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya