Namun, sambungnya, jika skenario model dibuat dengan asumsi dua segmen megathrust yang 'bergerak' secara simultan, maka magnitudo gempa yang dihasilkan bisa lebih besar dari 8,7.
"Besarnya magnitudo gempa yang disampaikan tersebut adalah potensi skenario terburuk (worst case) bukan prediksi yang akan terjadi dalam waktu dekat, sehingga kapan terjadinya tidak ada satu pun orang yang tahu," tekannya.
Karena itu, Daryono meminta agar semua pihak melakukan upaya mitigasi untuk mengantisipasi jika terjadi gempa diatas magnitudo 8,7. Dimana, hasil monitoring BMKG menunjukkan bahwa zona megathrust selatan Jawa memang sangat aktif yang tampak dalam peta aktivitas kegempaannya (seismisitas).
(Angkasa Yudhistira)