Balada Desa "Terlarang" Bagi Pendatang

Demon Fajri, Jurnalis
Selasa 29 September 2020 15:27 WIB
Suasana Desa Lisai, Bengkulu (Foto: Okezone/Demon)
Share :

Deteksi Dini, Terjunkan Bhabinkamtibmas di Seluruh Penjuru

Berbagai cara dilakukan dalam mencegah dan menghadapi aksi radikal terorisme. Pencegahan sejak dini tidak terlepas dari kerjasama berbagai intansi. Mulai dari Pemerintah Daerah, TNI, Polri.

Tidak hanya itu, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammdiyah dan Organisasi Masyarakat (Ormas) pun ikut dilibatkan dalam upaya pencegahan aksi radikal.

Dari Polri sendiri telah menerjunkan personel Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) yang tersebar di seluruh penjuru provinsi berjuluk Bumi Rafflesia ini.

Di mana mereka bertugas untuk melakukan pembinaan terhadap masyarakat dipedesaan, termasuk diperkampungan pedalaman. Hal tersebut tidak lain untuk mendeteksi sejak dini jika ada masyarakat atau kelompok yang berbuat penyimpangan.

''Semua desa di Bengkulu sudah kita pantau. Bhabinkamtibmas yang bertugas di setiap desa selalu memberikan pembinaan kepada masyarakat. Ini salah satu langkah untuk mendeteksi secara dini jika ada masyarakat atau kelompok yang menyimpang,'' kata Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Bengkulu, Kombes Pol. Sudarno, saat dikonfirmasi okezone, Minggu 27 September 2020.

Selain itu, lanjut Sudarno, Polda Bengkulu juga telah bekerjasama dengan MUI, NU dan Muhammadiyah, untuk melakukan pembinaan keumatan yang ada di setiap desa di provinsi yang dihuni tidak kurang dari 2,2 juta jiwa ini.

''Kita melibatkan MUI, NU dan Muhammadiyah dalam pembinaan keumatan di masyarakat,'' jelas Sudarno.

Bengkulu Peringkat Terbawah Potensi Radikal

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah melakukan penelitian guna mengangkal terorisme, pada tahun 2018 yang dirilis tahun 2019. Termasuk di Provinsi Bengkulu. Kearifan lokal menjadi salah satu pencegahan aksi radikal terorisme.

Efektivitas kearifan lokal dalam menangkal radikalisme. Hasil dari masyarakat percaya bahwa 63,60 persen (kategori tinggi), kearifan lokal masih mampu memfilter paham radikalisme.

Hasil survey juga menemukan, bahwa aktivitas keagamaan masih tinggi mencapai 77,73 persen. Namun, pemahaman keagamaan dengan skor yang masih rendah. Yakni, 25,82 persen.

''Kearifan lokal salah satu pencegahan terorisme,'' kata Sekretaris Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Bengkulu, Khairil Anwar, ketika ditemui Okezone, Senin 28 September 2020.

Untuk potensi radikal di Bengkulu, jelas Khairil, sebesar 32,91 kategori rendah dengan rata-rata skor 42,58. Di mana Bengkulu berada di posisi 31 dari 32 provinsi di Indonesia.

Namun pada tahun 2017, kata Khairil, provinsi Bengkulu memiliki potensi radikalisme cukup tinggi, dengan persentase 58,58 persen. Dengan upaya pencegahan yang dilakukan FKPT, FKUB, FKDM serta Kesbangpol.

Meskipun demikian, potensi radikalisme pada tahun 2018, Bengkulu menduduki peringkat ke 32 dari 32 provinsi di Indonesia.

Untuk di tahun 2019, terang Khairil, Bengkulu masih berada di posisi terendah atau sama dengan di tahun 2018. Di mana itu merupakan hasil survey sementara di Bengkulu, sehingga posisi Bengkulu terbawah dalam potensi radikal.

''Pencegahan paham radikal terorisme tidak terlepas dari upaya sosialisasi dengan melibatkan berbagai lembaga dan instansi,'' terang Khairil.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya