BAKU – Gencatan senjata terbaru di wilayah konflik Nagorno-Karabagh dilanggar hanya beberapa menit setelah mulai diberlakukan pada Senin (26/10/2020). Armenia dan Azerbaijan, dua pihak yang bertikai di wilayah kantong itu saling tuduh melanggar gencatan senjata tersebut.
Gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serkat (AS) itu diumumkan di Washington pada Minggu (25/10/2020) dalam sebuah pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh pemerintah AS, Armenia dan Azerbaijan.
BACA JUGA: Armenia dan Azerbaijan Setujui Gencatan Senjata Baru
Pengumuman tersebut menyusul diskusi antara Wakil Menteri Luar Negeri AS Stephen Biegun, Menteri Luar Negeri Armenia Zohrab Mnatsakanyan dan mitranya dari Azerbaijan Jeyhun Bayramov. Departemen luar negeri AS mengatakan kesepakatan dicapai setelah negosiasi yang intens.
Gencatan senjata tersebut mulai berlaku pada Senin pukul 08:00 waktu setempat. Namun, baru beberapa menit setelah diberlakukan, Azerbaijan menuduh pasukan Armenia menembaki Kota Terter dan desa-desa terdekat sebagai "pelanggaran berat" atas perjanjian tersebut.
Kementerian pertahanan Armenia mengatakan artileri Azerbaijan telah menembaki posisi militer di berbagai bagian garis depan setelah perjanjian gencatan senjata dimulai, demikian diwartakan BBC.
Dalam sebuah posting di Facebook, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan menegaskan negaranya "terus dengan ketat mematuhi rezim gencatan senjata".
Juru bicara Presiden Azerbaijan, Hikmet Hajiyev mengatakan Armenia berusaha untuk "mempertahankan status quo berdasarkan pendudukan", menambahkan: "Pihak Azerbaijan sedang menahan diri."
Sebelumnya, dua gencatan senjata lainnya yang disepakati awal bulan ini terkait konflik tersebut telah dilanggar.
Pertempuran meletus pada 27 September di sekitar wilayah kantong pegunungan tersebut. Konflik kembali memanas dalam beberapa hari terakhir.
Nagorno-Karabakh diakui secara internasional sebagai bagian dari Azerbaijan tetapi berada di bawah kendali etnis Armenia.
BACA JUGA: Putin: Hampir 5.000 Orang Tewas dalam Konflik di Nagorno-Karabagh
Bentrokan yang dimulai di wilayah tersebut pada September dengan cepat meningkat menjadi konflik skala besar, dengan penembakan terhadap kota-kota dan dugaan penggunaan munisi tandan yang dilarang.
Beberapa ribu orang tewas dan penembakan telah menewaskan warga sipil di kedua sisi. Puluhan ribu orang telah meninggalkan rumah mereka.
(Rahman Asmardika)