Potret Warga Jepang yang Mendobrak Tabu Tato

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Minggu 15 November 2020 05:21 WIB
Mari dan Tenji di rumah mereka di Niiza, Saitama (Foto: Reuters)
Share :

PENGGEMAR tato yang semakin banyak di Jepang berupaya mendobrak tabu, yang selama 400 tahun mengaitkan orang yang bertato dengan geng kriminal, seperti yakuza.

Hiroki di Irezumi Aikokai

Tato mereka sering menampilkan karakter dari cerita legenda tradisional.

Pekerja di tempat barang-barang rongsokan Hiroyuki Nemoto, 48, dan putrinya yang berusia satu tahun, Tsumugi, di rumah mereka, di Hitachinaka, Ibaraki

Dan, meskipun beberapa spa, kolam renang, pantai, dan gym melarang pengunjung dengan tato tubuh, fotografer Kim Kyung-Hoon bertemu dengan beberapa dari mereka di pemandian umum di Tokyo.

Asakusa Horikazu dengan pelanggan jasa tatonya.

Pekerja konstruksi Hiraku Sasaki, 48

Pemilik restoran Hiroshi Sugiyama, 38

Pertemuan tahunan Irezumi Aikokai (Asosiasi Pecinta Tato), di Tokyo, pada bulan Februari menjadi "penting karena biasanya kami menyembunyikan tato kami dari masyarakat", kata pimpinannya, Hiroyuki Nemoto.

"Tapi setahun sekali, kami dengan bangga bisa memamerkan tato kami dan saling menunjukkan tato baru yang kami miliki."

Acara Irezumi Aikokai

Penulis Hiroki Takamura, 62, mengatakan: "Pada tahun 2000-an, jumlah majalah tato mulai meningkat.

"Dan bahkan perempuan mulai memiliki lebih banyak tato.

"Saya pikir ada harapan bahwa tato pada akhirnya akan diterima sebagaimana adanya di Eropa."

Tapi Rie Yoshihara, 33, yang bekerja sebagai petugas yang memasangkan kimono pada turis, masih merasa tidak bisa menunjukkan tato punggungnya kepada ayahnya.

Seorang pembuat tato, Shodai Horiren, mengatakan: "Rumahmu akan menjadi tua.

"Orang tuamu akan meninggal.

"Kamu bisa saja putus dengan kekasih.

"Anak-anakmu tumbuh besar dan pergi.

"Tapi tato tetap bersamamu sampai kamu dikremasi dan dikubur.

"Itu hal yang membuatnya menarik."

Petugas pembukuan di sebuah perusahaan Mina Yoshimura, 40, berkata: "Jika saya memiliki tato dan suami saya [Hiroshi] tidak, dia bisa pergi ke tempat-tempat yang tidak bisa saya kunjungi.

"Tapi karena kami berdua sama-sama memiliki tato, kami bisa pergi kemana saja bersama.

"Menurut saya itu bagus."

Mari Okasaka, 48, memiliki tato pertamanya 20 tahun lalu.

Sekarang, putranya, Tenji, 24, sedang berusaha menutupi seluruh tubuhnya dengan warna.

"Beberapa orang membuat tato karena alasan yang dalam," katanya.

"Tapi saya melakukannya karena saya rasa tato itu lucu, sama seperti alasan mengapa saya membeli blus yang bagus."

Namun, ketika Mari meninggalkan rumah, dia memakai baju lengan panjang agar tidak jadi bahan pembicaraan tetangganya.

Tenji berkata: "Beberapa orang mungkin menganggap saya aneh.

"Tapi saya tidak memperhatikan omongan itu lagi.

"Ya, ada kalanya orang mengira saya bagian dari geng.

"Tapi saya tidak terlalu mengkhawatirkannya.

"Saya akan terus melakukannya sampai saya tidak memiliki kulit yang tidak berwarna."

Pekerja kantoran Hideyuki Togashi, 48, yang kakinya diamputasi pada Maret 2019, mengatakan: "Saya pikir karena tato, sebagian dari diri saya menjadi lebih kuat secara psikologis.

"Dan karena saya begitu kuat, saya bisa pulih dengan cepat."

(Arief Setyadi )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya