Minyak adalah sumber utama pendapatan negara: USD9 dari setiap USD10 yang masuk ke dalam perekonomian negara itu. Namun produksi minyak telah turun tajam sejak 2017.
Selain pemerintah yang miskin dengan sedikit sumber pendapatan, inflasi Venezuela termasuk yang tertinggi di dunia, hal yang mendatangkan malapetaka pada nilai mata uang nasional negara itu.
BACA JUGA: Mata Uang Venezuela Ambruk: Tisu Dijual 2,6 juta, Daging Ayam 14,6 juta
Selama tiga tahun terakhir, Bank Sentral telah memperketat pasokan dolar Amerika Serikat (AS), yang dipandang oleh banyak orang Venezuela sebagai perlindungan aman bagi uang mereka.
Akibatnya, mata uang AS meroket sementara bolivar anjlok, bersama merosotnya nilai uang pensiun.
Bagi kebanyakan orang lanjut usia, kualitas hidup mereka menukik tajam, membuat mereka berada dalam situasi yang lebih rentan.
Hidup dengan keterbatasan
Karena penurunan nilai bolivar, uang pensiun Norma kini hanya bernilai USD1,30 (Rp 18.500) per bulan.
Ia mendapatkan bentuk bonus lain yang diberikan oleh pemerintah dalam upaya untuk meringankan dampak kemerosotan ekonomi.
Ketika semua penghasilannya ditambahkan, dia memiliki sekitar USD5 (Rp 70.000) sebulan, cukup untuk membeli satu kilo daging.
Norman Mujica. (Foto: Oswer Diaz Mireles)
Tapi prioritas utama Norma bukanlah daging, tapi pil penurun tekanan darah yang harus diminumnya setiap hari. Obat itu biasanya dipasok oleh negara melalui Farmapatria, jaringan apotek pemasok obat-obatan dasar bagi masyarakat.
Tetapi dia tidak selalu mendapatkan pil tepat waktu, itulah sebabnya dia menabung.