Sangat sedikit makanan
Norma bergantung pada makanan yang dibagikan pemerintah kepada mereka yang berpenghasilan rendah.
"Kotak makanan itu datang setiap satu setengah bulan. Yang terakhir isinya dua kilo beras, dua bungkus tepung untuk membuat arepas [roti pokok Venezuela], dua kilo pasta, beberapa bungkus chickpeadan kopi. Kali itu, mereka tidak memberikan gula," kata Norma.
Makanan itu tidak cukup dan Norma mengatakan dia sering merasa "pusing".
"Hari ini saya makan roti tepung, kopi, dan telur yang diberikan seseorang untuk sarapan saya. Untuk makan siang, saya makan kacang polong dan nasi, dan kacang polong lagi untuk makan malam."
"Sudah lama sekali sejak saya tidak makan daging, ayam, susu; saya tidak pernah mengira saya akan kelaparan di usia tua. Bukan hanya saya yang mengalami ini, banyak orang di lingkungan ini yang mengalami situasi yang sama," tambahnya.
Norma mengatakan putranya tidak dapat membantunya sekarang.
"Dia berusia 25 tahun, telah menikah dan memiliki dua anak. Dia mendapatkan upah minimum di sebuah restoran, tapi pekerjaan itu berakhir akibat pandemi. Kini, dia membuat kue bersama istrinya untuk memenuhi kebutuhan."
Listrik tak memadai dan air kuning
Norma bersyukur mesin cuci tua yang sudah dimilikinya bertahun-tahun masih berfungsi.
Begitu juga dengan lemari es dan TV sebagai sumber hiburannya. Namun, dia khawatir tegangan listrik yang turun tiba-tiba dan pemadaman listrik yang berulang akan merusak peralatannya.
"Karena itulah microwave saya rusak. Sudah tidak menyala lagi sekarang dan saya tidak mungkin membeli yang baru," katanya cemas.
Tak hanya pasokan listrik yang jadi masalah.