Pemerintahan Joko Widodo di periode kedua mengeluarkan serangkaian kebijakan untuk menciptakan SDM unggul. Salah satunya adalah pengarusutamaan pendidikan vokasi. Harapannya, pendidikan vokasi yang berfokus pada keterampilan di bidang tertentu dapat mencetak angkatan kerja terampil dan cocok dengan kebutuhan industri.
Mata kuliah praktik mendominasi perkuliahan vokasi yakni 60 persen sementara mata kuliah teori 40 persen. Terkait hal tersebut, untuk pembelajaran praktik kerja dan praktik kerja lapangan atau magang, kampus dan dunia usaha harus sepakat terkait pelaksanaan magang selama pandemi. Di sisi lain, magang menjadi bagian dari kemitraan antara institusi pendidikan dan industri yang terus diperkuat oleh Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Dit. Mitras DUDI). Proses magang dilakukan secara terstruktur, sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh setiap mahasiswa sehingga hasil dari magang tidak hanya sebagai pengalaman kerja tetapi juga implementasi kerja sama yang berkelanjutan.
Liviana Setianur Maranti, salah satu peserta program Praktik Kerja Lapangan (PKL) atau magang, berbagai pengalamannya selama magang. Menurut D4 MICE / Event Business Management, Politeknik Negeri Jakarta, magang merupakan program wajib bagi mahasiswa/i Diploma 4 program studi MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) di Politeknik Negeri Jakarta, yang diselenggarakan setiap semester 7. “Saya berkesempatan untuk melakukan PKL selama 5 bulan di PT Prista Teknologi Indonesia (RajaMICE), yaitu perusahaan yang bergerak pada industri travel dan event,” ujarnya.
Perempuan kelahiran Jakarta, 24 Maret 1998, ini mengatakan bahwa durasi magang yang diwajibkan yaitu 5 – 6 bulan, yakni pada 2 Juli – 19 Desember 2019. Politeknik Negeri Jakarta memberikan kebebasan bagi mahasiswa program studi MICE untuk mencari perusahaan untuk tempat pelaksanaan magang. Namun, kampus dan dosen juga membantu mahasiswa dalam proses pencarian perusahaan untuk tempat magang. “Saya sendiri mengulik informasi perusahaan dari data anggota ASPERAPI. Kemudian saya mengajukan perusahaan magang pilihan saya kepada program studi. Setelah approve, prodi mengeluarkan surat pengantar yang kemudian saya kirimkan kepada perusahaan RajaMICE,” ungkapnya.
dok.pribadi
Selama magang, Project officer in Parade Global Goals MUN 2018, ini awalnya ingin melakukan PKL di perusahaan ini dengan tujuan dapat memenuhi laporan akhir semester 7. Ia berfokus pada kegiatan promosi pada suatu pameran. Namun, selama magang, ia diberikan kepercayaan untuk membuat konsep dan mengeksekusi beberapa event berskala nasional. Sehingga lingkup pekerjaan yang dilakukan tidak hanya seputar kegiatan promosi saja, tapi mulai dari membuat konsep acara, menentukan dan berkomunikasi dengan speaker, membuat konten publikasi, bekerjasama dengan partner nasional maupun internasional, membuat flow dan rundown acara hingga berkordinasi dengan vendor dan volunteer. “Di perusahaan tersebut saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi kordinator di 2 acara konferensi nasional, yaitu Rembuk Nasional Pariwisata Indonesia 2019 dan Indonesia Tourism Summit 2019,” ungkapnya.
Liviana menjelaskan, Rembuk Nasional Pariwisata Indonesia 2019, suskes diselenggarakan pada 15 Oktober 2019 di Aruba Room The Kasablanka. Acara ini diinisasi oleh Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) dan didukung oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Acara ini dihadiri oleh Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI 2014-2019. Sejumlah pembicara lainnya di antaranya Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah, Azwar Anas, Bupati Banyuwangi, Didien Junaedy, Ketua Umum GIPI, Johnnie Sugiarto Wakil Ketua Umum PHRI Bidang Destinasi Wisata, Nunung Rusmiyati Ketua Umum ASITA, Agus Rochiyardi, Dirut Badan Otorita Borobudur, dan Hiramsyah S. Thaib, Ketua Tim Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas.
Acara ini merupakan konferensi pariwisata yang terbagi menjadi tiga sesi. Pada sesi pertama membahas perkembangan dan strategi terbaru pariwisata Indonesia. S,esi kedua membahas tantangan yang akan dihadapi Indonesia di masa mendatang dalam sektor pariwisata. Sedangkan sesi ketiga pelaksanaan penandatanganan nota kesepakatan komitmen mendukung pengembangan pariwisata Indonesia. Acara ini dihadiri oleh 300 peserta yang tergolong dalam pentahelix / 5 unsur stakeholder pariwisata, yaitu akademisi, pelaku bisnis, pemerintah, asosiasi, dan media.
Sedangkan Indonesia Tourism Summit 2019 Cdiinisiasi oleh ITTA Foundation bekerjasama dengan Politeknik Negeri Jakarta dan Universitas Bina Nusantara. Acara ini merupakan konferensi pariwisata yang membahas tentang pengembangan pariwisata terkini di Indonesia. Dihadiri 300 peserta dari kalangan akademisi, asosiasi, praktisi, pemerintah, dan media. Acara ini diselenggarakan pada 17 Desember 2019 dan dihadiri oleh pembicara dari Indonesia dan Malaysia. Wishnutama Kusubandio, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI juga menyempatkan hadir untuk memberikan keynote speech di acara ini.
Dalam kedua acara ini, Floor manager in Pop Art Beauty Exhibition 2017, ini berkesempatan untuk menangani acara. Mulai dari pembuatan proposal, melakukan koordinasi dan dealing dengan speaker, menentukan konten publikasi, berkoordinasi dengan Kemenparekraf melakukan kerja sama dengan partner, berkordinasi dengan vendor, melakukan screening volunteers, membuat laporan event. “Tentu dalam pelaksanaan saya juga dibantu oleh tim (ada 2 rekan dari Politeknik Negeri Jakarta dan 4 rekan dari Politeknik Negeri Makassar yang sama-sama mengikuti program magang),” jelasnya.
Menurutnya, pekerjaan selama magang sesuai dengan yang diajarkan di kampus. Di kampus dirinya belajar mengenai perencanaan dan pelaksanaan event. Saat magang, semua ilmu yang didapatkan di kampus dapat diimplementasikan secara nyata. Hal yang dirasakan paling berbeda ketika magang adalah dalam hal perencanaan dan pembuatan event tidak jauh berbeda.
“Di kampus tidak hanya diajarkan secara teori saja, namun juga dilatih untuk bisa merencanakan dan mengeksekusi langsung konsep acara yang sudah dipersiapkan. Pada semester 6, kami (mahasiswa PNJ prodi MICE angkatan 2016) berhasil menyelenggarakan konferensi nasional bernama INAMICE 2019 dan juga Ethnic On The Go : A Culture-Clash Fashion Exhibition 2019, sehingga pengalaman ini menjadi salah dasar bagi kami dalam terjun ke dunia industri yang sesungguhnya. Selain itu, kampus kami juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk ikut berpartisipasi dalam event-event nasional maupun internasional,” ungkapnya.
Dengan adanya pengalaman magang ini, Liviana berkesempatan untuk merasakan langsung bagaimana sistem bekerja di perusahaan, khususnya perusahaan yang fokus pada industri travel dan event. Ia juga mendapatkan relasi yang lebih luas jangkauannya mulai dari sektor pemerintah, media, pelaku bisnis, asosiasi, serta komunitas.
Selama magang Liviana merasakan tempo kerja yang ekstra cepat dan intensif. Di kampus, dosen juga sudah seringkali memberikan arahan bahwa nantinya ketika terjun di industri event, yang sesungguhnya dihadapi adalah pekerjaan yang menuntut kita untuk kerja dengan tempo yang begitu cepat, waktu yang tidak menentu, dan tuntutan untuk memberikan performa yang total. “Awalnya, saya perlu waktu untuk beradaptasi. Namun, pada akhirnya semua bisa tetap dijalani,” ujarnya.
Liviana menceritakan pengalaman unik yang tidak terlupakan selama magang. Ketika mempersiapkan event Rembuk Nasional Pariwisata Indonesia, 3,5 jam sebelum acara berlangsung, 3 speaker untuk sesi 2 dan sesi 3 konfirmasi bahwa tidak bisa hadir di acara tersebut karena adanya pertemuan dengan Presiden. Di saat itu juga Liviana beserta tim memutar otak dan membuat plan lain untuk mengatasi kendala tersebut. Namun, saat sesi 1 berlangsung, PIC (person in charge) dari 3 speaker tersebut menghubungi kembali dan mengkonfirmasi bahwa akan hadir di acara.
“Saya dan tim membuat hingga 8 rancangan flow dan rundown berbeda untuk acara ini,” ungkapnya.
Liviana mengaku berminat untuk bekerja di industri yang berkaitan dengan pariwisata dan penyelenggaraan acara. Ia berharap bisa terus mengimplementasikan ilmu dan pengalaman yang dimiliki untuk memajukan perekonomian Indonesia melalui industri ini.
CM
(Yaomi Suhayatmi)